Rabu, 08 Mei 2013

Empire of Babilonia ( by: Andry Steven Manongga)



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Peradaban Babilonia adalah salah satu peradaban yang besar yang ada di dunia pada saat itu dan sangat memberikan pengaruh besar untuk kehidupan manusia pada saat ini. Peradaban Babilonia ini dibangun berdasarkan dua periode yaitu Babilonia kuno yang dipimpin oleh Hammurabi dan Babilonia baru oleh Nebukadnezar, hanya usaha keduanya pada akhirnya mengalami keruntuhan.[1]
Arnold Toynbee mengatakan:
Peradaban Babilonia ini sangat terkenal akan bangunannya yang indah dan mewah, sehingga arsitektur bangunannya bisa dikatakan arsitektur yang sangat hebat. Peradaban Babilonia ini menghasilkan berbagai macam kebudayaan mulai dari peralatan, agama, ilmu pengetahuan, sistem kemasyarakatan, bahasa, sistem perekonomian, dan juga kesenian.[2]
 Kebudayaan yang dihasilkan peradaban Babilon ini masih banyak yan digunakan dalam kehidupan masa kini, jadi bisa dikatakan bahwa peradaban Babilonia memberikan pengaruh besar baik untuk kehidupan masa lalu maupun untuk masa kini.
Peradaban Mesopotamia-Babilonia berkembang di sekitar sungai Eufrat dan Tigris. “Mesopotamia-Babilonia terkenal dalam sejarah karena hasil-hasil kebudayaannya yang bernilai tinggi, terkenal dengan karakteristik kebudayaan yang bisa dikatakan berbeda dengan hasil kebudayaan masyarakat yang lain.”[3] Kebudayaan masyarakat Mesopotamia-Babilonia ini memang sudah berkembang maju sejak puluhan abad yang lalu. Mereka mampu menciptakan kebudayaan yang memiliki nilai historis yang sangat tinggi yang menjadi karakteristik peradaban itu sendiri. Peradaban Babilonia Baru pada masa Raja Nebukadnezar merupakan peradaban yang kaya akan hasil-hasil kebudayaan yang menakjubkan.
 
B.       Sejarah Munculnya Peradaban Babilonia
Babilonia adalah sebuah kerajaan kuno yang di dalamnya terdapat peradaban yang besar yang berkembang di sekitar sungai Eufrat dan juga Tigris dan sekarang termasuk pada wilayah Irak Selatan. Ada dua masa yang terkenal berkaitan dengan peradaban Babilonia ini yaitu Babilonia Kuno atau Babilonia Lama di tangan Raja Hammurabi dan Babilonia Baru di tangan Raja Nebukadnezar. Sejarah Babilon memiliki rentang waktu yang sangat panjang sampai ribuan tahun lamanya. Babilon juga dianggap sebagai pusat peradaban dunia pada waktu itu karena sudah mengenal dan mengembangkan sistem irigasi, ilmu pengetahuan, kesusastraan, perekonomian, dan hukum.
Babilon muncul ketika Hammurabi mendirikan sebuah kerajaan di luar kerajaan Akkadian.  Babilonia pada zaman Sumeria termasuk kota yang kecil dan tidak begitu penting. Syek Sumuabu mendirikan kerajaan mendirikan kerajaan itu sekitar tahun 185 SM.[4] Sampai pada keturunan yang ke-6, diangkat sebagai raja adalah Hammurabi. Usahanya tidak sia-sia sehingga nama Babilonia akhirnya menjadi nama seluruh negeri yang sebelumnya disebut Sumeria. Pemakaian nama itu jelas dimaksudkan untuk menjadi lambang kemenangan dan kebesaran Babilonia. Akkadian Semitik sebagai bahasa resmi, dan mempertahankan bahasa Sumeria dalam bidang keagamaan, yang saat itu tidak lagi menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Tradisi Akkadia dan Sumeria memainkan peranan penting di dalam kebudayaan Babilon kelak, dan agama akan tetap menjadi pusat kebudayaan yang penting.[5]         
Pada kira-kira 2300 SM, Akkad dan Sumeria bersatu menjadi negara Babilonia dengan ibu kota Babilon. Pada tahun 1955 SM tahta kerajaan Babilon jatuh ditangan Hammurabi yang pada akhirnya bisa menghancurkan negara yang ada di sekitarnya, juga mempersatukan Mesopotamia serta mempersatukan daerah daerah jauh yang ada di sekitarnya pada tahun 1925 SM. Hal yang paling terkenal dari Raja Hammurabi adalah hukum yang dibuatnya yaitu Hukum Hammurabi. Hammurabi meninggal pada tahun 1912 SM dan semenjak saat itu sejarah Babilonia menunjukkan penurunan, sudah ada enam orang yang menggantikan Hammurabi tetap tetap saja tidak bisa menahan penurunan kondisi kerajaan pada saat itu.
Pada abad ke-18 datanglah jenis bangsa lain yang menyerbu Mesopotamia yaitu bangsa Indo-Jerman atau Indo-Eropa yaitu bangsa Hittit yang berdiam di Asia Minor yang beribukota di Boghazkeui di dekat kota Ankara sekarang.[6] Bangsa Hittit inilah yang kemudia datang menyerbu dan menghancurkan Babilon. Setelah bangsa Hittit pergi, Babilon masih bisa dibangun sampai datangnya suku Khassit yang sama sama berasal dari bangsa Indo-Jerman yang datang dari pegunungan Persia Barat, dan berakhirlah kerajaan Babilonia Lama atau Kuno yang didirikan oleh Hammurabi.
Bangsa Khassit akhirnya bisa menguasai Babilonia 576 lamanya, tetapi mereka pada umumnya tidak merusak kebudayaan dan tatanegara yang telah dibangun oleh Hammurabi, dan saingan dari bangsa ini adalah bangsa Assyria. Bangsa Assyria sendiri, pada saat itu sangat berambisi untuk menguasai Mesopotamia yang akhirnya melalui perjungannya bisa menduduki seluruk Mesopotamia. Puncak kejayaan Assyria terdapat di pemerintahan Ashurbanipal, tetapi setelah dia meninggal keruntuhan mulai terasa sampai pada saatnya terjadi sebuah serangan dari Nabo-Palasar dan bangsa Madia dari Persia dan dengan demikian tamatlah kerajaan Assyria yang telah 5 abad lamanya yang telah memerintah dengan tangan besi dan dengan berbagai macam kekejaman.
Pada akhirnya kerajaan Assyria dibagi oleh kaum penyerbu, Bangsa Media mendapat bagian utara yang kemudian bersama-sama dengan Persia mendirikan kerajaan Persia. Bagian Selatan jatuh pada Nabo-Palasar yang mendirikan kerajaan Babilonia Baru.  Babilonia baru ini mengalami kebesaran kembali dibawah pemerintahan Nebukadnezar. 


BAB II
NAMA RAJA-RAJA BABILONIA
A.       Hammurabi[7]
Hammurabi (bahasa Akkadia, dari kata Ammu "saudara laki-laki pihak ayah", dan Rāpi "seorang penyembuh"); adalah raja keenam dari Dinasti Babilonia pertama (memerintah 1792-1750 SM), dan ia mungkin juga Amraphel, raja dari Sinoar (Kejadian 14:1). Hammurabi memimpin pasukannya menyerang Akkadia, Elam, Larsa, Mari dan Summeria, sehingga menjadikan Kekaisaran Babilonia hampir sama besar dengan Kerajaan Mesir kuno di bawah Firaun Menes, yang menyatukan Mesir lebih dari seribu tahun sebelumnya.
1.         Piagam Hammurabi
Walaupun Hammurabi banyak sekali melakukan peperangan menaklukkan kerajaan lain, namun ia lebih terkenal karena pada masa pemerintahannya dibuat kode resmi (hukum tertulis) pertama yang tercatat di dunia, yang disebut sebagai Piagam Hammurabi (Codex Hammurabi). Pada tahun 1901, arkeolog Perancis menemukan piagam tersebut ketika melakukan penggalian di bawah reruntuhan bekas kota kuno Susa, Babilonia. Piagam Hammurabi tersebut terukir di atas potongan batu yang telah diratakan dalam huruf paku (cuneiform). Piagam tersebut seluruhnya ada 282 hukum, akan tetapi terdapat 32 hukum diantaranya yang terpecah dan sulit untuk dibaca. Isinya adalah pengaturan atas perbuatan kriminal tertentu dan ganjarannya. Beberapa contoh isinya, antara lain:
·           Seorang yang gagal memperbaiki saluran airnya akan diminta untuk membayar kerugian tetangga yang ladangnya kebanjiran.
·           Pemuka agama wanita dapat dibakar hidup-hidup jika masuk rumah panggung (umum) tanpa permisi.
·           Seorang janda dapat mewarisi sebagian dari harta suaminya yang sama besar dengan bagian yang diwarisi oleh anak laki-lakinya.
·           Seorang dukun yang pasiennya meninggal ketika sedang dioperasi dapat kehilangan tangannya (dipotong).
·           Seseorang yang berhutang dapat bebas dari hutangnya dengan memberikan istri atau anaknya kepada orang yang menghutanginya untuk selang waktu tiga tahun.
Saat ini, Piagam Hammurabi telah disimpan dan dipamerkan untuk khalayak ramai di Museum Louvre di Paris, Perancis.
2.        Arti Penting Hammurabi
Hammurabi selain merupakan raja, adalah juga seorang pemimpin agama masyarakat Babilonia. Dengan demikian, Piagam Hammurabi merupakan suatu aturan resmi yang dijalankan oleh masyarakat dan pemerintahan Babilonia. Diperkirakan bahwa dahulu hukum-hukum yang diterbitkan dibuat menjadi piagam (dalam bentuk prasasti) dan diperlihatkan kepada khalayak ramai untuk memperoleh persetujuan. Jadi hukum-hukum bukan dibuat oleh pemerintah semata-mata agar sesuai dengan pendapatnya sendiri. Dalam pengertian ini, Piagam Hammurabi dapat dianggap sebagai pendahulu dari sistem hukum resmi seperti yang saat ini berlaku pada masyarakat modern.
B.       Nabopolassar (626 SM – 605 SM)[8]
Setelah matinya raja Ashurbanipal pada tahun 627 SM, kerajaan Asyur terpecah oleh persaingan di dalam. Seorang jenderal Asyur, Sin-shum-lishir, memberontak dan menguasai Babilon, tetapi langsung digulingkan oleh tentara Asyur yang setia pada raja Ashur-etil-ilani. Babilon kemudian dikuasai oleh putra Ashurbanipal yang lain, Sin-shar-ishkun, yang mengangkat diri menjadi raja. Namun tidak lama kemudian Babilon memberontak dengan bantuan suku Kasdim (Bit Kaldu), yang dipimpin oleh Nabopolassar. Nabopolassar merebut tahta dan memulai dinasti Neo-Babilonian.
Selama 3 tahun pertama, Nabopolassar tidak diganggu dalam memperkuat Babilon, karena ada perang saudara sengit antara raja Asyur Ashur-etil-ilani dan saudaranya Sin-shar-ishkun di Mesopotamia selatan.
Tahun 623 SM, Sin-shar-ishkun membunuh saudaranya dalam Perang di Nippur, merebut tahta dan berusaha merebut Babilon dari Nabopolassar. Selama 7 tahun, Nabopolassar memukul mundur serangan Asyur, dan tahun 616 SM malah menyerang Assur dan Arrapha, tetapi tidak berhasil. Kemudian bersama sekutunya, bekas tentara Asyur, orang-orang Media, Persia, Elam dan Scythian, ia menyerang lagi pada tahun 615 dan 614 SM, kali ini Assur dan Arrapha berhasil direbut. Selama tahun 613 SM tentara Asyur mencoba memukul mundur tentara Babilonia dan Media. Namun sebaliknya pada tahun 612 SM Nabopolassar dan raja Media, Cyaxares, memimpin tentara gabungan menyerang Niniwe, mengepungnya selama 3 bulan dan merebutnya. Sejak itu Babilon menguasai Asyur dan wilayah bagian utara maupun baratnya.
Seorang jenderal Asyur, Ashur-uballit II, menjadi raja Asyur dan mendirikan ibukotanya di Harran. Nabopolassar dan sekutunya mengepung Ashur-uballit II di Harran tahun 608 SM dan merebutnya; Ashur-uballit II menghilang setelah ini. Raja Mesir, Firaun Nekho II menyerang pada tahun 609 SM dalam upaya yang terlambat untuk membantu sekutunya di Asyur. Nabopolassar (dibantu putra dan kelak penggantinya, Nebukadnezar II) selama tahun-tahun terakhir pemerintahannya terus mengusir orang-orang Mesir, yang dibantu tentara bayaran dari Yunani dan sisa tentara Asyur, dari Siria, Asia Kecil, bagian utara Arabia dan Israel. Nebukadnezar membuktikan kehandalannya dengan akhirnya mengalahkan tentara Mesir beserta sekutunya dalam perang di Carchemish tahun 605 SM.
C.       Nebukadnezar II (604 SM – 562 SM)[9]
Nebukadnezar II menjadi raja setelah ayahnya mati. Ia membangun semua kota-kota besar Babilonia dengan mewahnya. Ibukotanya, Babilon, meliputi wilayah seluas 3 mil persegi, dikelilingi oleh rawa-rawa dan dua lapis dinding tebal. Sungai Eufrat mengalir di tengah kota, dihubungkan dengan jembatan batu yang indah. Di tengah kota ada ziggurat raksasa yang disebut Etemenanki, "Rumah perbatasan langit dan bumi," di sebelah kuil dewa Marduk.
Nebukadnezar berhasil menaklukkan Siria dan Fenisia, memaksa upeti dari Damaskus, Tirus dan Sidon. Ia juga menyerang Asia Kecil, di tanah "Hatti". Tahun 605 SM ia menduduki Yerusalem dan mendapatkan upeti dari Yoyakim, raja Yehuda.
Seperti Asyur, Babilonian berperang setiap tahun untuk menguasai jajahannya. Tahun 601 SM Nebukadnezar berperang lagi melawan Mesir. Tahun 599 SM ia menyerang Arabia dan mengalahkan mereka di Qedar. Tahun 597 BC ia menyerang Kerajaan Yehuda dan merebut Yerusalem serta menawan raja Yoyakhin, membawanya dalam pembuangan, dan menempatkan Zedekia, paman Yoyakhin menjadi raja. Mengambil kesempatan perang antara Mesir dan Babilon, raja Zedekia mencoba memberontak. Setelah dikepung 18 bulan Jerusalem direbut lagi tahun 587 SM, ribuan orang Yahudi dibuang ke Babel dan Bait Suci dihancurkan sampai rata tanah.
Pada tahun 572 Nebukadnezar menguasai penuh Babilonia, Asyur, Fenisia, Israel, Filistin, Arabia utara dan sebagian Asia Kecil. Nebukadnezar terus berperang dengan Firaun Psammetichus II dan Apries (Hofra) selama pemerintahannya, dan pada zaman Firaun Amasis II tahun 568 SM, ia diduga menginjakkan kaki di tanah Mesir.
D.       Ewil-Merodakh (Amel-Marduk) (562 SM – 560 SM)[10]
Ewil-Merodakh adalah putra dan penerus Nebukadnezar II. Ia memerintah hanya 2 tahun (562 – 560 SM). Menurut Kitab 2 Raja-raja di Alkitab, ia mengampuni dan melepaskan raja Yoyakhin, dari Kerajaan Yehuda, yang ditawan di Babel selama 37 tahun (sejak tahun 597 SM).[1] dimana ditulis bahwa:
“Kemudian dalam tahun ke-37 sesudah Yoyakhin, raja Yehuda dibuang, dalam bulan yang ke-12, pada tanggal 27 bulan itu, maka Ewil-Merodakh, raja Babel, dalam tahun ia menjadi raja, menunjukkan belas kasihannya kepada Yoyakhin, raja Yehuda, dengan melepaskannya dari penjara. Ewil-Merodakh berbicara baik-baik dengan dia dan memberikan kedudukan kepadanya lebih tinggi dari pada kedudukan raja-raja yang bersama-sama dengan dia di Babel.”
-       2 Raja-raja 25:27-28
Menurut Kitab Yeremia pasal 52:31-32 Ewil-Merodakh melepaskan Yoyakhin tanggal 25. Diduga karena berusaha mengubah kebijakan ayahnya, Ewil Merodakh dibunuh oleh Nergal-sarezer atau Neriglissar, iparnya yang kemudian merebut tahtanya.
E.       Nergal-sarezer (560 SM – 556 SM)[11]
Nergal-sarezer atau Neriglissar memerintah dengan stabil, melakukan banyak pekerjaan umum, termasuk memperbaiki kuil dan sebagainya. Ia juga berhasil menyerang Silisia, yang mengancam Babilon. Neriglissar hanya bertahta 4 tahun sebelum diganti putranya, Labashi-Marduk yang masih muda. Tidak jelas apakah Neriglissar dari suku Kasdim atau penduduk asli kota Babilon.


F.        Labashi-Marduk (556 SM)[12]
Labashi-Marduk adalah putra Nergal-sarezer atau Neriglissar, yang meneruskan tahta ketika masih kecil. Ia dibunuh dalam satu persepakatan 9 bulan setelah dinobatkan. Ia digantikan oleh Nabonidus.
G.      Nabonidus (556 SM – 539 SM)[13]
Latar belakang Nabonidus tidak jelas. Dalam satu tulisan peninggalannya, ia menyebut latar belakangnya tidak penting. Ibunya yang hidup sampai usia tua dan tinggal di kuil dewa bulan Sîn di Harran juga tidak menyebut asal-usulnya. Menurut Tawarikh Nabonidus mulai tahun ke-7 pemerintahannya (549 SM) ia mengasingkan diri ke kota Tema di Arabia dan menyerahkan pemerintahannya pada putra sulungnya, Belsyazar.
H.       Belsyazar (549 SM - 539 SM)[14]
Belsyazar menjadi raja atas nama ayahnya, Nabonidus, selama 10 tahun ayahnya di pengasingan (menurut Tawarikh Nabonidus). Kitab Daniel mencatat bahwa Nebukadnezar disebut sebagai ayahnya. Istilah "ayah" dapat berarti "kakek" atau "leluhur", termasuk juga "ayah angkat". Pada tahun 539 SM, Nabonidus pulang ke Babilon untuk menghadapi ancaman serangan Koresh, raja Persia, tetapi tidak berhasil menahan serbuan ini. Menurut Kitab Daniel, Belsyazar mati terbunuh pada malam tentara Persia berhasil masuk dan merebut ibukota Babilon yang berdasarkan perhitungan waktu sejarah terjadi pada tanggal 15 Oktober 539 SM. Dalam catatan-catatan Babel maupun Persia, namanya tidak disebutkan lagi setelah tanggal ini.



BAB III
KEKAISARAN BABILONIA KUNO
A.       Babilonia Kuno[15]
Ketika Hammurabi (yang juga adalah orang Amoriah) naik tahta menjadi raja Babilon, kekaisaran itu hanya terdiri dari beberapa kota dan sedikit wilayah sekitarnya: Dilbat, Sippar, Kish, dan Borsippa. Setelah Hammurabi menjadi raja, dia berhasil memperoleh banyak sekali kemenangan militer dengan menaklukan kota-kota lain yang dapat memberi keuntungan bagi Babilon. Dengan kemenangan-kemenangan militernya itu, banyak tanah yang direbut oleh kekaisaran. Akan tetapi, meskipun Babilon sudah menjadi jauh lebih kuat berkat Hammurabi, Babilon masih belum menjadi daerah penting di Mesopotamia, tidak seperti Assyria, yang ketika itu dipimpin oleh Shamshi-Adad I, ataupun Larsa, yang ketika itu dipimpin oleh Rim-Sin.
Pada tahun ketiga belas Hammurabi sebagai raja, dia mulai menjadikan Babilon sebagai pusat dari apa yang nantinya akan menjadi kekaisaran besar. Pada tahun tersebut, dia merebut Larsa dari Rim-Sin, serhingga dia kini memeiliki kendali atas pusat-pusat perkotaan yang menguntungkan seperti Nippur, Ur, Uruk, dan Isin. Dengan kata lain, Hammurabi memperoleh kendali atas seluruh Mesopotamia selatan. Kekuatan politik lainnya yang patut diperhitungkan di daerah itu pada milenium kedua adalah Eshnunna, yang berhasil direbut oleh Hammurabi sekiatar tahun 1761 SM. Babilon kemudian memanfaatkan jalur perdagangan Eshnuna yang sudah sangat mapan serta kestabilan ekonomi yang mereka meiliki. Tidak lama setelah itu pasukan Hammurabi merebut Mari, kota terakhir yang memberinya kendali atas seluruh wilayah yang membentuk Mesopotamia di bawah Dinasti Ketiga Ur pada milenium ketiga.
Babel tetap menjadi negara kota kecil sampai masa pemerintahan penguasa keenam, Hammurabi (1792 - 1750 SM). Dia adalah penguasa yang sangat efisien, membangun birokrasi, dengan pemerintah perpajakan dan terpusat. Dia memperluas dominasi Babilonia atas seluruh selatan Mesopotamia, dan itu dari waktu ini bahwa selatan itu harus disebut sebagai sejarah Babilonia. Penaklukan Hammurabi memberikan stabilitas wilayah setelah bergolak kali.
Tentara Babilonia di bawah Hammurabi dengan baik-disiplin, para Elam, Gutians dan Kassites ke timur dari Mesopotamia yang tewas dan menaklukkan, dan kota-negara dan kota-kota dari Isin, Eshnunna, Uruk, Ur, Kish, Larsa dan Lagash yang dimasukkan menjadi negara besar Babel. Untuk bagian barat utara, Semitik negara Mari (Suriah) ditaklukkan. Hammurabi mengadakan perang berlarut-larut dengan Asyur untuk menguasai Mesopotamia dan Timur Dekat, yang telah mengukir sendiri sebuah kerajaan di bawah Shamshi-Adad I sebelum naik ke kekuasaan Hammurabi. Setelah perjuangan yang belum terselesaikan berlarut-larut selama puluhan tahun dengan raja Asyur Ishme-Dagan , Hammurabi memaksa para penerusnya untuk membayar upeti kepada Babel, sehingga memberikan kontrol Babilonia atas Asyur Hattian dan Hurrian koloni di Asia Kecil.
Salah satu karya yang paling penting dari ini "Dinasti Pertama Babel", seperti yang disebut oleh sejarawan pribumi, merupakan kompilasi dari kode hukum yang bergema dan diperbaiki hukum sebelumnya tertulis Sumeria, Akkad dan Asyur. Hal ini dibuat atas perintah Hammurabi setelah pengusiran Elam dan penyelesaian kerajaannya. Setelah kematian Hammurabi, kerajaannya mulai hancur dengan cepat. Di bawah penggantinya Samsu-Iluna (1749-1712 SM) yang jauh di selatan Mesopotamia hilang untuk seorang raja Akkadia asli disebut Ilum-ma-ili dan menjadi Dinasti Sealand , tetap bebas dari Babel selama 272 tahun ke depan. Baik Babel dan penguasa Amori mereka diusir dari Asyur ke utara oleh gubernur Asyur-Akkadia bernama Puzur-Sin , dan setelah satu dekade perang sipil, seorang raja bernama asli Adasi merebut kekuasaan sekitar tahun 1730 SM, dan pergi ke mantan yang tepat Babel wilayah di pusat Mesopotamia. 
B.       Masa Pemerintahan Hammurabi[16]
Hammurabbi adalah raja Bablonia yang memerintah sejak 1792-1750 BC. Permulaan lahirnya Babilonia dianggap dimulai sejak pemerintahan Hammurabi, walaupun sebenarnya dia adalah raja ke 6 dari dinastinya. Puncak kejayaan Babilonia Lama adalah pada masa pemerintahan Raja Hammurabi (1800 SM). Perubahan-perubahan terjadi pada masa Hammurabi. Perubahan terjadi pada bidang agama dan kebudayaan.  Jasa Hammurabi yang terbesar terlihat dalam karyanya, yaitu kitab undang-undang yang terkenal dengan nama "Undang-Undang Hammurabi". Di dalam kitab itu tercantum peraturan-peraturan tentang perdagangan dan hukum perdata dan larangan-larangan bahwa orang tidak boleh menjadi hakim sendiri. Undang-undang tersebut pada dasarnya menerapkan asas pembalasan. Undang-undang Hammurabi ditulis dengan huruf paku. Undang-undang tersebut ditemukan di kota Susa pada tahun 1901 M. Tugu undang-undang Hammurabi berbentuk segi delapan, tingginya 20 meter dan terdiri atas 181 bab.
Hammurabi sangat aktif dalam membangun dan memperbaiki tempat ibadah, dinding kota dan gedung publik, membangun kanal untuk irigasi dan juga berperang. Hal utama yang menjadi perhatian Hammurabi semasa pemerintahannya adalah untuk menjamin penguasaan penuh bangsa Babilonia atas sungai Euphrates, sumber kehidupan negaranya.
C.       Kebudayaan Babilonia Kuno[17]
Kelimpahan tanah liat dan kurangnya bebatuan di Babilonia menyebabkan besarnya produksi dan penggunaan bata yang terbuat dari tanah liat. Kuil-kuil di Babilonia terbuat dari struktur batu bata mentah sebagai penopangnya dan ada semacam saluran air untuk air hujan di kuil-kuil tersebut. Salah satu saluran air di Ur, terbuat dari timah. Penggunaan bata tanah liat ini menuntun ke awal perkembangan penggunaan pilaster dan kolom, dibuatnya lukisan-likisan di dinding dan juga penggunaan ubin berenamel. Dinding-dinding mulai diwarnai dengan berbagai berwarna dan kadang disepuh dengan seng atau emas serta penggunaan ubin sebagai lantainya. Pewarnaan terracotta di bagian atas kuil juga digunakan untuk pemlesterannya.
D.       Astronomi[18]
Ada beberapa dokumen kuno dari masa Babilonia Lama yang membahas tentang aplikasi matematika untuk menghitung panjangnya periode siang hari selama tahun matahari.
Segi empat Astrolabe tertua yang ditemukan di catatan, tertanggal tahun 1100 sebelum masehi. Mul-Apin sebuah catatan kuno yang berisi katalog bintang dan rasi bintang dan juga skemanya untuk memprediksi waktu terbitnya matahari dan juga tentang tata letak planet-planet, panjang waktu satu hari yang diukur dengan jam air, Gnomon, bayangan dan juga sisipan-sisipan astronomi.
Teks GU bangsa Babilonia berisi tentang pengaturan letak bintang-bintang dalam suatu ‘string’ yang berada di sepanjang lingkaran deklinasi sehingga dapat dihitung ukurannya serta interval waktunya, juga untuk menilik bintang zenith yang dipisahkan oleh perbedaan yang terlihat.
E.       Kedokteran[19]
Catatan tertua tentang ilmu kedokteran ditemukan pada abad ke-2 sebelum masehi saat dinasti Babilonia pertama. Teks medis Babilonia yang terkenal luas berjudul Diagnostic Handbook yang ditulis oleh seorang dokter bernama Esagil kin Apli dari Borsippa pada masa pemerintahan Raja Adad Iddina Apla.
Bersama dengan ilmu kedokteran kontemporer Mesir kuno, orang Babel memperkenalkan konsep diagnosis, prognosis, pemeriksaan fisik dan pemberian resep. Selain itu, The Diagnostic Handbook juga memperkenalkan metode terapi dan aetiologi serta penggunaan empirisme, logika dan rasionalitas dalam hal diagnosis, prognosis dan juga terapi. Catatan tersebut juga berisi daftar gejala-gejala medis dan juga pengamatan empiris yang detail dengan aturan logika yang digunakan untuk menggabungkan gejala yang diamati dari seorang pasien dengan diagnosis dan prognosis.
The Diagnostic Handbook ditulis berdasarkan aksioma-aksioma dan juga asumsi-asumsi logis, termasuk pandangan moderen tentang pemeriksaan dan pemeriksaan gejala pasien yang memungkinkan para dokter mengetahui penyakit yang diderita oleh pasien, aetiologi dan perkembangannya juga seberapa besar kemungkinan pemulihan pasien tersebut. Kemudian dalam beberapa waktu, ilmu kedokteran Babel semakin menyerupai kedokteran Yunani dalam banyak hal.
F.        Sastra[20]
Ada beberapa perpustakaan yang di bangun di beberapa kota dan di dalam kuil, sebuah pepatah Sumeria kuno menegaskan “dia yang akan unggul menjadi seorang ahli tulisan, harus bangkit bersama fajar”.
Ada banyak karya sastra dari Babilonia yang terkenal di seluruh dunia. Yang paling terkenal adalah Epic of Gilgamesh yang terangkum dalam 12 buku yang diterjemahkan dari bahasa Sumeria asli oleh Sin Liqi Unninni yang disusun berdasarkan prinsip astronomi. Tiap divisi dari buku-buku tersebut berisi cerita tentang petualangan Gilgamesh yang menjadi tokoh sentral dari keseluruhan cerita.


BAB IV
KEKAISARAN BABILONIA BARU
A.       Babilonia Baru[21]
Selama berabad-abad dominasi Asiria, Babilonia menikmati status menonjol, atau memberontak pada indikasi sedikit pun bahwa itu tidak. Asyur selalu berhasil mengembalikan loyalitas Babel, bagaimanapun, baik melalui pemberian hak istimewa meningkat, atau kekuatan militer. Yang akhirnya berubah setelah 620 SM, tujuh tahun setelah kematian penguasa Asyur besar terakhir, Ashurbanipal tahun 627 SM. Asyur turun menjadi serangkaian perang sipil brutal internal, Ashur-etil-Ilani digulingkan oleh salah satu jenderalnya sendiri, yang bernama Sin-shumu-lishir , yang juga menempatkan dirinya sebagai raja di Babel. Setelah lain perang saudara yang brutal, Sin-shar-ishkun digulingkan dia sebagai penguasa Asyur dan Babilonia. Namun, ia dilanda oleh perang saudara konstan tak henti-hentinya di jantung Asyur. Babilonia mengambil keuntungan dari ini dan memberontak di bawah Nabopolassar , anggota dari Semitik Kasdim , yang telah menetap di selatan timur Mesopotamia sekitar 1000 SM.
Pada 620 SM Nabopolassar merebut kendali atas sebagian Babilonia dengan dukungan dari sebagian besar penduduk, dengan hanya kota Nippur memperlihatkan kesetiaan kepada raja Asyur. Selama 4 tahun berikutnya ia harus bersaing dengan Asyur tentara berkemah di Babel berusaha meraih kemenangan. Namun, raja Asyur, Sin-shar-ishkun diganggu oleh pemberontakan konstan di Niniwe , dan dengan demikian tidak mampu untuk mengeluarkan Nabopolassar. Kebuntuan berakhir pada 616 SM, ketika Nabopolassar mengadakan aliansi dengan Cyaxares, raja Media dan Persia, dan juga Scythians dan Cimmerians . Setelah 4 tahun pertempuran sengit Niniwe dipecat pada tahun 612 SM setelah pengepungan berkepanjangan pahit yang Sin-shar-ishkun tewas. Asyur lalu Raja, Ashur-uballit II , pindah ibukota ke Harran di mana ia mengulurkan sampai 608 SM, ketika ia akhirnya dikeluarkan oleh Babel dan sekutu mereka. Sebuah kemenangan akhir dicapai pada Karkemis di 605 SM, yang juga termasuk mengalahkan Mesir Firaun Nekho II yang terlambat mencoba untuk membantu master mantan Mesir. Kursi kerajaan dengan demikian dipindahkan ke Babel untuk kali pertama sejak Hammurabi lebih dari seribu tahun sebelumnya.
Nabopolassar diikuti oleh anaknya Nebukadnezar II , yang memerintah dari 43 tahun membuat Babel sekali lagi nyonya besar dunia yang beradab, mengambil alih porsi yang adil dari mantan Kekaisaran Asyur pernah diperintah oleh saudara-saudara Asyur, timur dan utara bagian timur menjadi diambil oleh Media dan jauh di utara oleh Scythians . Kerajaannya termasuk menaklukkan Phoenicia di 585 SM, serta Aramea (Suriah), Israel, Yehuda dan bagian dari Asia Kecil dan Arabia . Hanya sebuah fragmen kecil dari sejarah itu telah ditemukan, yang berkaitan dengan invasi ke Mesir di 567 SM, dan merujuk pada "Phut dari Ionia".
Dari pemerintahan raja Babel terakhir, Nabonidus (Nabu-na'id), dan penaklukan Babilonia oleh Cyrus , ada cukup banyak informasi yang tersedia. Nabonidus dan putranya, bupati Belsyazar tidak Kasdim atau Babel, namun ironisnya berasal dari ibukota Asyur terakhir Harran . Informasi mengenai Nabonidus ini terutama berasal dari tablet yang berisi kronologis sejarah Nabonidus, ditambah dengan yang lain prasasti Nabonidus di mana ia menceritakan restorasi nya kuil dewa bulan di Harran, serta oleh proklamasi Cyrus dikeluarkan segera setelah ia pengakuan formal sebagai raja Babilonia. Saat itu di tahun keenam Nabonidus (549 SM) bahwa Cyrus, Achaemenid Persia "raja Anshan "di Elam, memberontak terhadap daerah kekuasaannya Astyages , "raja Manda" atau Medes, di Ecbatana . Tentara Astyages 'mengkhianatinya ke musuhnya, dan Cyrus mendirikan dirinya di Ecbatana, sehingga mengakhiri kerajaan Media. Tiga tahun kemudian Cyrus telah menjadi raja dari semua Persia, dan terlibat dalam kampanye di Asyur. Sementara itu, Nabonidus telah mendirikan kamp di gurun Arabia, dekat perbatasan selatan kerajaannya, meninggalkan anaknya Belsyazar (Belsharutsur) dalam komando tentara. Pada 539 SM Cyrus menyerang Babilonia, pemimpin terakhir Babylonia menyerah kepada Cyrus Agung dari Persia. Dan ini adalah pertanda berakhirnya kekaisaran Babilonia.
B.       Masa Pemerintahan Nebukadnezar[22]
Nebukadnezar adalah putra tertua Nebopalasar yaitu seseorang yang merupakan pendiri kerajaan Babilonia Baru. Nebukadnezar pada awalnya hanya ditugaskan sebagai komandan militer, tetapi pada akhirnya menjadi raja sesudah ayahnya meniggal dunia. Dia menikah dengan seorang putri yang merupakan anak dari Cyaxares, yang kemudian ini bisa dikatakan perkawinan politik karena bisa menyatukan dinasti Median dan Babilon. Nebukadnezar ini adalah sosok yang sangat terampil ketika berperang dan dia juga sangat pandai dalam berpolitik. Pada masa kekuasaan Nebukadnezar, Babilon merupakan kota terbesar dari kota yang ada di dunia pada saat itu  Luasnya diperkirakan 1000 hektar dengan sungai Euprat yang melewati kerajaan itu.
Kota Babilon yang tadinya hanya berupa reruntuhan, dibangun kembali menjadi sebuah kota yang indah dan megah dibawah kekuasaan Nebukadnezar. Pembangunan yang dia lakukan, bukanlah pembangunan yang cuma-cuma tetapi pembangunan yang dilakukan secara besar-besaran sampai mengerahkan semua budak yang ada di Babilon pada saat itu sehingga Babilon menjadi sebuah kota yang indah dan melegenda. Kota Babilon yang indah itu dikelelingi parit dan dinding ganda, dengan sungai Euprat yang mengalir melewati pusat kota dan dihubungkan dengan jembatan batu yang indah.  Di pusat kota juga dibangun sebuah ziggurat raksasa yang disebut Etemenanki (Rumah Perbatasan Antara Surga dan Bumi) yang terletak di depan kuil Marduk.
Sebagai seorang pemimpin yang cakap, Nebukadnezar telah banyak melakukan perang militer dengan berbagi bangsa salah satunya perang militer di Syiria dan Phoenicia, memaksakan setoran upeti dari Damaskus, Tyre, dan Sidon, Dia pun melakukan perang demi terciptanya koloni-koloni seperti yang terjadi di Asia Kecil, ayitu di daratan Haiti. Pada tahun 601 SM  terlibat pertempuran Besar dengan Mesir dan pada tahun 599 SM menyerang Arabia. Pada tahun 597 SM menyerang Israel dan merebut Jerussalem sekaligus menggulingkan raja Jeholakin, Pada akhirnya Mesir dan Babilon pun terlibat perang  untuk menguasai timur dekat di sepanjang masa pemerintahan Nebukadnezar  dan hal inilah yang mendorong raja Zedekiah dari Israel untuk memberontak. Tetapi ternyata setelah 18 bulan Jerussalem dapat direbut pada 587 SM dan ribuan Yahudi pun di deportasi ke Babilon dan kuil Solomon diratakan dengan tanah.
C.       Hasil-Hasil Kebudayaan[23]
Ada pun hasil kebudayaan Babilonia Baru berdasarkan tujuh unsur kebudayaan mereka tersebut, yaitu:

1.         Alat Perlengkapan Hidup
Masyarakat Babilon merupakan masyarakat yang mulai mengenal adanya perabotan dan peralatan dalam kehiudpan mereka, semua bisa terlihat dari pembangunan kota Babilon yang indah. Masyarakat Babilon sudah mengenal adanya penggunaan guci sebagai alat yang digunakan untuk menyimpan air. Masyakata Babilon juga sudah mengenal perlogaman dan juga emas sehingga banyak menciptakan dan menggunakan alat-alat yang terbuat dari logam. Selain itu, karena tekstur tanah Babilon yang banyak menghasilkan tanah liat maka mereka banyak menggunakan tanah liat dalam membuat dinding baik itu peralat rumah, dinding rumah maupun kuil.
2.         Mata Pencaharian dan Sistem Ekonomi
Mata pencaharian dan sistem ekonomi yang banyak digunakan oleh masyarakat Babylon jika diperhatikan dari aktivitasnya mereka termasuk masyarakat yang juga hidup dari perniagaan atau perdagangan. Barang yang mereka perdagangkan berupa logam, perunggu ataupun timah putih dan hitam, mereka juga terjun dalam perdagangan gandum, sutera, kayu manis, dan yang lainnya. Babilon pun terkenal dengan kota yang memiliki sistem pengairan atau irigasi yang bagus, taman gantung pun salah satu bukti bahwa di Babilon sistem pengairan yang digunakan sudah bagus. Didukung oleh pengairan yang bagus maka, sistem pertanian banyak dilakukan oleh masyarakat Babilon. Masyarakat Babilon juga mengenal perternakan buktinya mereka banyak mempergunakan binatang sebagai alat transportasi. Binatang yang dijadikan hewan peliharaan yaitu domba, kuda, dan yang lainnya.
3.         Sistem Kemasyarakatan
Sistem pemerintahan tertinggi pada masyarakat dipegang oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan absolut yang melaksanakan kekuasaan legislative, judikatif, dan juga eksekutif sekaligus. Di bawah kedudukan raja adalah sekelompok gubernur atau pejabat yang ditunjuk oleh raja, walikota ataupun badan sesepuh yang ada di kota pemerintahan lokal.
Masyarakat Babylon terdiri dari tiga kelas yaitu :
1.      Awilu yaitu kelompok orang bebas dari kelas atas
2.      Muskenu yaitu orang bebas dari kelas bawah.
3.      Wardhu atau budak
Wardhu atau budak, pada awalnya adalah mereka yang merupakan tawanan perang, ada juga dari mereka yang akhirnya dijadikan penduduk Babylon yang berstatus bebas. Orang yang berstatus bebas bisa saja turun kelas sosialnya jika mereka melakukan sesuatu hal yang akhirnya menimbulkan sebuah hukuman.
4.         Bahasa
Bahasa yang digunakan masyarakat Babilon adalah bahasa yang dulu digunakan oleh bangsa Sumeria, karena mereka mengangap bahwa bangsa Sumeria adalah bangsa yeng pernah menempati tempat mereka pada saat ini, sehingga disebutlah bahasa kesatuan Sumeria. Sistem penulisan yang dikembangkan oleh bangsa Babylon dulunya juga dikembangkan oleh bangsa Sumeria yaitu penulisan cuneiform.
5.         Kesenian dan Bangunan
Peradaban Babilon memang sangat terkenal dengan seni dan arsitekturnya. Karena Babilon banyak menghasilkan tanah liat maka kebanyakan bangunan yang didirikan di sana banyak menggunakan tanah liat. Penggunaan batu bata pada saat itu membuat bangsa ini mulai mengenal plester dan kolom, langit, langit juga penggunaan keramik putih.  Kuil yang ada di Babilon biasanya dibangun dengan dinding yang diwarnai dan kadang dilapisi logam atau emas juga kadang-kadang digunakan keramik sebagai pelapis dinding. Selain kemegahan dari sebuah kuil, Babilon ini juga terkenal dengan arsitektur yang dibuat pada taman gantung dan juga menara babel.
Selain pembangunan dalam hal arsitektur yang dihiasi tanah liat, Babilon juga terkenal dengan seni pahatan yang sangat hebat. Sehingga batu-batu disana sangat berhaga karena bisa dijadikan sebagi pahatan terutama untuk pahatan patung. Pahatan yang dihasilkan kebanyakan adalah berbentuk tiga dimensi. Rumah-rumah penduduk pun sudah banyak yang dibangun dengan baik dan sudah terdapat kamar mandi di dalamnya. Pada masa Nebukadnezar juga banyak rumah yang dengan atap datar yang ditopang dengan kayu-kayu yang dilumuri lumpur, bagi orang miskin tidak akan mampu mendapatkan kemewahan kayu hanya bisa membangun pondokan melingkar yang batu bata yang ditopang dengan tiang pusat, dinding-dindingnya dilapisi rumput-rumput panjang dan tanah liat. Salah satu hasil keindahan arsitekturnya adalah:
a.         Taman Gantung
Taman gantung ini begitu terkenal bahkan sampai sekarang, walaupun keberadaannya masih dipertanyakan, entah itu mitos ataulah sebuah kenyataan. Menurut cerita bahwa taman ini di bangun untuk menghibur istri Nebukadnezar yang bernama Amyitis yang rindu pada kampung halamannya. Amyitis, saudara perempuan raja Medes yang dinikahi oleh Nebukadnezar untuk menciptakan penyatuan antar bangsa. Kampung halaman tempat permaisuri berasal dari yang tanhnya hijau, rimbun dan bergunung-gunung dan dikota Babilon terdapat tanah yang datar, permukaan tanah Mesopotamia yang terbakar terik matahari yang membuatnya tertekan.
Menurut Diodorus Siculus, seorang sejarawan yunani mneyatakan bahwa tempat dimana taman itu berdiri terdiri dari lempengan batu besar yang ditutup dengan lapisan rumput, aspal dan ubin. Di atas diletakkan penutup dengan lembaran timah, yang kalau ada air merembas melalui tanah tidak membusukkan fondasi. Diatas semua itu diletakkan tanah dengan kedalaman yang pas, yang cocok untuk pertumbahan pohon-pohon besar. Ketika tanah yang ditimbun sudah rata dan datar, ditanamlah semua jenis pohon, yang keagungan dan keindahannya membuat senang pengunnjung. (Adrison, 2010: 17)
b.        Menara Babel
Banyak ahli yang membuat kesimpulan bahwa menara Babel merupakan salah satu zigurat yang didirikan oleh bangsa Babilonia kuno. Tapi Babel bukan Babilonia, dan Menara Babel bukan merupakan zigurat. Bahkan mungkin Menara Babel bukan merupakan sebuah menara. Menurut time line sejarah di Alkitab, kota Babel telah lama ada sebelum zaman kerajaan Babilonia. Jadi bisa dipastikan Menara Babel tidak ada hubungan dengan Taman Gantung atau zigurat-zigurat yang didirikan untuk memuja Dewa Marduk. Dalam Alkitab juga tidak disebutkan bahwa Menara Babel dihancurkan. Melainkan penduduk Babel meninggalkan kota itu dan kemudian terpencar ke seluruh dunia. Sampai saat ini Menara Babel merupakan misteri yang belum berhasil diungkap oleh para ahli sejarah. Namun ada berbagai macam legenda rakyat dari peradaban kuno yang menceritakan menara Babel ini.
c.         Ziggurat
Ziggurat adalah monumen besar yang dibangun di lembah Mesopotamia Kuno dan dataran tinggi Iran bagian barat, yang berbentuk piramida berundak yang tersusun atas kisah atau tingkat yang mundur. Terdapat 32 ziggurat di dan dekat Mesopotamia yang diketahui. 28 terletak di Irak, dan 4 ada di Iran. Ziggurat merupakan tempat pemujaan para dewa orang para pendeta wanita, tetapi juga merupakan tempat perdagangan atau ekonomi. karena seluruh hasil panen yang dihasilkan oleh orang mesir di kumpulkan di dalam kuil. Dan ketika tiba musim pancaroba, maka kuil tersebut akan dibuka dan hasil panen yang telah dikumpulkan akan dibagi kan kepada para penduduk. dan ini merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kehidupan.

6.    Sistem Pengetahuan
a.    Astronomi
Dari banyak ilmu yang ada, astronomi dan astrologi masih menduduki peringkat pertama di antara masyarakat Babel. Astronomi adalah ilmu tertua di Babilonia. Zodiak yang saat ini kita kenal, merupakan penemuan orang Babilonia yang sangat tua. Pada masa itu, para Babel sudah bisa meramalkan kapan terjadinya gerhana matahari atau bulan. Ada banyak teks kuno yang menyebutkan tentang penelitian orang Mesopotamia tentang gerhana.
Astronomi Babilonia dipercaya menjadi dasar untuk ilmu astronomi di berbagai daerah lain di seluruh dunia, termasuk astronomi Hellenistik dan Yunani, astronomi klasik India, astronomi Sassania, Bizantium dan Syiria, astronomi Islam, astronomi Asia Tengah serta astronomi Eropa Barat. Teks astronomi tertua yang signifikan adalah catatan 63 hari dari “Enuma Anu Enlil”, catatan venus dari Ammi-Sadupa yang mencatatat kenaikan venus pertama dan terakhir di sepanjang periode sekitar 21 tahun. Dicatat juga bukti paling awal kemunculann sebuah planet yang diakui sebagai sesuatu yang terjadi secara berkala.
Selain itu, penanggalan astrolabe bujur sangkar tertua pada zaman Babilonia 1100 SM. Mul Apin, berisi catalog bintang-bintang dan susunan juga skema untuk memprediksi naiknya hellacal dan susunan planet-planet, lamanya matahari bersinar dikukr dengan jam air, gnomon, bayangan, dan lorong-lorong cahaya. Teks Babilon menyusun bintang-bintang kedalam sebuah deretan yang terletak dispenajnag lingkaran yang menurun yang digunakan untuk mengukur interval waktu, dan juga menggunakan bintang-bintang.
b.    Matematika    
Teks matematik Babel sangat banyak jumlahnya dan teredit dengan sangat baik. Sistem matematik Babel adalah sexagesimal atau bilangan berbasis 60. Oleh karena itu, di masa moderen sekarang penggunaan angka 60 seperti 60 detik dalam satu menit, 60 menit dalam satu jam, dan 360 atau 60x6 dalam derajat lingkaran. Pencapaian dalam ilmu matematika lainnya yaitu ditemukannya penentuan nilai akar kuadrat, bahkan para ilmuan Babel telah mendemonstrasikan teori Pythagoras.  Catatan kuno tentang kuadrat dan kubus yang dihitung menggunakan angka 1 hingga 60, ditemukan di Senkera dimana orang-orang telah menegenal jam matahari, clepsydra, juga tuas dan katrol, padahal saat itu mereka belum memiliki pengetahuan tentang mekanika. Bangsa Babel juga sudah lama mengenal lensa kristal dan penyalaan bubut sebelum ditemukan oleh Austen  
c.         Filsafat
Asal-usul filsafat Babilonia dapat ditelusuri kembali ke awal Mesopotamia literatur kebijaksanaan, yang diwujudkan filosofi kehidupan tertentu, khususnya etika, dalam bentuk dialektika, dialog, puisi epik, cerita rakyat, himne, lirik, prosa, dan peribahasa. Babel penalaran dan rasionalitas dikembangkan di luar empiris pengamatan. Ada kemungkinan bahwa Babel filsafat memiliki pengaruh terhadap Yunani, terutama filsafat Helenistik.
d.        Literatur
Pada masa ini banyak dirikan perpustakaan dan kebanyakan dari orang Babilon sudah mengenal tulisan sehingga bisa membaca dan juga menulis. Sejumlah literature Babilon diterjemahkan dari bahasa Sumeria, bahasa agama, bahasa hukum yang kemudian menjadi bahasa kestuan Sumeria. Ada banyak karya sastra yang lahirdan judul yang paling terkenal yaitu Epic Gilgamesh dalam 12 buku yang diterjemahkan dari Sumeria awal  dan disusun berdasakan prinsip-prinsip astronomi, Setiap bagian cerita merupakan cerita petualangan tunggal Gilgamesh, Seluruh cerita merupakan sebuah hasil gabungan yang nanti akan dilekatkan pada tokoh pusat.
7.        Religi
Pada zaman ini mereka memiliki banyak dewa tetapi yang mereka puja yaitu dewa yang pertama ialah dewa Marduk sehingga mereka banyak mendirikan kuil-kuil di dalam istana maupun di luar istana yang bisa disebut juga dengan Ziggurat. Tetapi masyarakat Babilonia sendiri lebih percaya dengan bintang-bintang daripada Tuhan, karena apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka, mereka lebih percaya ramalan bintang daripada kehendak Tuhan.


BAB V
BABILONIA DALAM ZAMAN ISRAEL
Alkitab memberikan beberapa referensi mengenai Babel sebagai berikut:
o    2 Raj. 17:24, 30, “Babel menjadi jajahan kerajaan Asyur dan sebagian penduduknya dipindahkan raja Asyur ke Samaria (bersama-sama bangsa lainnya juga).”
o    2 Raj. 20:12-19, “Bersahabat dengan raja Hizkia, tetapi dinubuatkan oleh Yesaya bahwa Israel akan ditawan ke Babel.”
o    2 Raj. 24:1, “Israel dikalahkan oleh Babel dan ditawan, serta tinggal di Babel selama 70 tahun.”
o    2 Taw. 36:21, “Kemudian orang-orang Israel kembali dari Babel dan membangunkan Kaabah Allah.”
A.      Masa Pembuangan Babilonia
Masa pembuangan yang terjadi kepada bangsa Israel dan Yehuda sangat menarik untuk dibahas, karena dapat melihat betapa besarnya Anugerah Allah. Karena sebagai bangsa pilihan Allah yang mendapatkan hak istimewa dari Allah, mereka harus merasakan susahnya menjadi bangsa buangan. Tidak hanya itu saja, pembuangan ini pun terjadi dalam beberapa tahap dan  oleh beberapa bangsa. Pertama oleh bangsa Asyur khususnya Kerajaan Utara yaitu Israel. Kedua, oleh bangsa Babilonia terhadap kaum Yehuda dan Israel.
Bangsa Israel sebelum masuk dalam masa pembuangan. Mereka mempunya sifat yang tegar tengkuk kepada  Allah, mereka sujud menyembah kepada ilah-ilah lain  (2 Tawarikh 36:11-21). Israel tadinya adalah suatu kesatuan yang utuh tetapi mereka menjadi terpecah karena kekerasan hati mereka (1Raja-raja 12:1-24), sehingga Tuhan Allah menghukum mereka dengan memecahkan bangsa yang tadinya utuh itu menjadi dua kerajaan. Yaitu, bagian Utara dan Selatan. Kerajaan Utara ialah Israel dan Selatan ialah Yehuda. Yang pertama masuk dalam pembuangan ialah Israel oleh bangsa Asyur tetapi seiring berjalannya waktu bangsa Asyur ini dapat dikuasai oleh Babilonia adapun penyebab-penyebabnya yang pertama adalah luasnya wilayah yang berhasil dikuasai oleh bangsa Asyur terlalu luas sehingga Asyur tidak sanggup memegang semua wilayah, dan yang kedua adalah adanya pemberontakan bangsa Babilonia yang tidak dapat dihadapi oleh bangsa Asyur itu sendiri di sini kami bisa mengetahui bahwa Babilonia terlebih dahulu dikuasai oleh Asyur.
B.       Keadaan Yehuda dan Israel
Bangsa yang sangat mempengaruhi penduduk Yehuda pada abad kedelapan dan ketujuh SM adalah bangsa Babilonia hingga pada zaman selanjutnya keadaan yang terdesak membuat bangsa Yehuda dan Israel harus di bawa dan di tawan dalam masa pembuangan di Babel.[24] Ada pun pembuangan yang dilakukan oleh Babel terjadi dalam tiga tahap yaitu:
1.         Tahapan Pertama
Karena pada mulanya kerajaan Israel termasuk dalam wilayah kekuasaan Asyur tetapi kemudian bangsa Asyur itu sendiri dikuasai oleh Babilonia pada tahun 612 S.M.  Sehingga secara otomatis bangsa Israel atau Kerajaan Utara masuk dalam jajahan Babilonia. Dan dibuang bersama bangsa Asyur. Dalam pembuangan pertama ini Daniel bersama teman-temanya ikut dalam pembuangan.

2.         Tahapan Kedua   
Pembuangan tahap kedua ini terjadi pada tahun 597 S.M.  (2 Raja-raja 24:10-17) dan termasuk diantaranya adalah Raja Yoyakhin dan Yehezkiel. Dan lebih menarik lagi pada tahap ini yaitu munculnya Yudaisme dimana ada sebagaian orang yang kembali kepada Tuhan dan nabi Yehezkiel mendapatkan julukan sebagai “Bapa Yudaisme”. Pembuangan yang kedua ini termasuk pembuangan yang sama kejamnya dengan pembuangan yang pertama, dan meninggalkan akibat yang abadi bagi orang-orang Israel di sepanjang masa sehubungan dengan dirusaknya Yerusalem dan Bait Allah pada waktu itu.[25]

3.         Tahapan Ketiga
Pembuangan tahap ketiga merupakan rombongan kedua dari Yehuda terjadi pada tahun 587 S.M.  pembuangan ini ditandai dengan runtuhnya Yerusalem. Raja Zedekia  pun ikut dalam pembuangan pada tahap ketiga ini. 
Seluruh jumlah orang buangan rupanya tidak lebih dari 20.000 sampai 30.000 orang (2 Raja-raja 24:10-17). Tetapi karena orang yang dibuang ini terdiri dari lapisan atas (pegawai, militer, imam, tukang besi) dan karena banyak orang yang sudah tewas  dalam perang sebelumnya, akibat pembuangan ini membawa dampak yang sangat buruk bagi bangsa Yehuda. Pembuangan ini dimaksudkan untuk melumpuhkan suatu bangsa, sehingga bangsa itu tidak dapat memberontak lagi. 
Keadaan Bangsa Yehuda agak mirip dengan sekelompok transmigran karena mereka memperoleh kemudahan-kemudahan dari pemerintah Babilonia, hal ini terbukti dengan mereka di perbolehkan mengatur hidupnya sendiri dan tidak diperlakukan sebagai layaknya orang buangan. Tetapi ada juga orang-orang buangan yang dipenjarakan dan ada juga yang dijadikan budak. Hal ini merupakan kebijakan dari raja Babel yang hanya memilih orang-orang yang sekiranya dapat menguntungkan bangsanya. Misalnya, dari orang-orang yang merupakan keturunan Raja, dan cendekiawan yang nantinya mereka di suruh belajar bahasa orang Kasdim setelah itu mereka harus bekerja untuk raja (Daniel 1:3-5). Mereka juga dengan cepat dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

   

















BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Peradaban Babilonia berdiri dalam dua periode dengan dua penguasa yang berbeda, periode peradaban Babilonia Kuno atau lama diperintah oleh Hammurabi sedangkan peradaban Babilonia Baru diperintah oleh Nebukadnezar. Kedua raja tersebut memeiliki kekuatan yang sangat besar sehingga banyak yang bisa diunggulkan dari peradaban Babilonia ini, walalupun akhirnya hancur oleh kerajaan lainnya. Babilonia baru pada masa Nebukadnezar ini merupakan kota yang sangat indah yang dibangun dengan arsitektur yang sangat megah, dan tidak ada sebelumnya dan juga belum tentu bisa ada yang meniru setelahnya. Peninggalan pada masa Babilonia baru yang sangat terkenal adalah adanya Taman Gantung yang dikatakan sebagai sebuah hadiah persembahan kepada istri Nebukadnezar, juga adanya Ziggurat dan Menara Babel sebagai wujud persembahan mereka terhadap Tuhan yang mereka percayai.
Babilonia memiliki dewa kuno yang bernama dewa Marduk. Orang-orang Babilonia mempercayainya sebagai perwujudan dari Dewa Matahari. Mereka menyebutnya “Bel”, yang berarti “Tuhan” (bnd. Yes. 46:1; Yer. 50:2). Masa kejayaan atau keemasan Babilonia ketika dipimpin oleh 2 orang yang sangat berpengaruh bagi kekaisaran mereka, yang memerintah di dua zaman atau periodisasi yang berbeda. kekaisaran Babilonia Kuno berjaya pada masa pemerintahan Hammurabi. Dia melakukan reformasi besar-besaran bagi Babilonia Kuno. Sebaliknya, kekaisaran Babilonia Baru berjaya pada masa pemerintahan Nebukadnezar yang banyak memberikan kontribusi bagi Babilonia. Dia adalah seorang raja yang sangat ulet dan cakap selama masa pemerintahannya.
Akan tetapi, raja-raja Babilonia setelah Nebukadnezar justru sangat lemah. Kepemimpinan dalam kekaisaran yang luas itu selalu berpindah tangan dengan cepat dari satu raja ke raja lain, bahkan kadang-kadang pemindahan kekuasaan itu berlangsung secara kekerasan. Raja-raja Babilonia sesudah Nebukadnezar kurang berhasil, dan akhirnya orang-orang Babilonia menyerahkan kerajaan mereka kepada Koresy, raja bangsa Media, tanpa perlawanan yang berarti.
Sekian. Tuhan memberkati!


DAFTAR PUSTAKA
Alkitab. Jakarta: LAI, 2007.
Douglas, J. D, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995.
F. Hinson, David, Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
Iryadi, Achmad, Pengantar Sejarah Asia Barat Daya, Bandung: UPI Press, 2008.
J. Sumardianta, dkk, Sejarah – Untuk SMA/MA Kelas X, Jakarta: Grasindo, “tt”.
Koentrajaningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Mudammad, Ardison, Babilonia: Menyusuri Jejak Kota Yang Hilang, Surabaya: Penerbit Liris, 2010.
Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
Toynbee, Arnold, Sejarah Umat Manusia: Uraian Analistis, Kronologis, Naratif, & Komparatif, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2004.
Yenne, Bill, 100 Pria Pengukir Sejarah Dunia, Jakarta: PT. Pustaka Delapratasa, 2002.


Sumber Lain
Internet. George Smith, Assyrian Discoveries, New York.









LAMPIRAN
PETA KEKAISARAN BABILONIA

Peta 1.
Kekaisaran Babilon Kuno ketika Hammurabi naik tahta pada 1792 SM (coklat tua) dan setelah kematiannya pada 1750 SM (coklat muda).


Peta 2.
Luasnya Kekaisaran Babel Selama Dinasti Kassite


Peta 3.
Kekaisaran Babilonia Baru









[1] Ardison Mudammad, Babilonia: Menyusuri Jejak Kota Yang Hilang (Surabaya: Penerbit Liris, 2010), 48.

[2] Arnold Toynbee, Sejarah Umat Manusia: Uraian Analistis, Kronologis, Naratif, Dan Komparatif (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2004), 115.

[3] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), 89.

[4] J. Sumardianta, dkk, Sejarah – Untuk SMA/MA Kelas X, (Jakarta: Grasindo, “tt”), 101.

[5] Koentrajaningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta : Rineka Cipta, 2009), 56.

[6] Achmad Iryadi, Pengantar Sejarah Asia Barat Daya (Bandung : UPI Press, 2008), 153.


[7] Bill Yenne, 100 Pria Pengukir Sejarah Dunia (Jakarta: PT. Pustaka Delapratasa, 2002), 12-13.
[15] Internet. George Smith, Assyrian Discoveries, New York.
[16] Bill Yenne, 100 Pria Pengukir Sejarah Dunia (Jakarta: PT. Pustaka Delapratasa, 2002), 14.
[17] Internet. George Smith, Assyrian Discoveries, New York.

[18] Internet. George Smith, Assyrian Discoveries, New York.
[19] Internet. George Smith, Assyrian Discoveries, New York.

[20] Internet. George Smith, Assyrian Discoveries, New York.
[22] Ardison Mudammad, Babilonia: Menyusuri Jejak Kota Yang Hilang (Surabaya: Penerbit Liris, 2010), 62.
[23] Internet. George Smith, Assyrian Discoveries, New York.
[24] David F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), 185.

[25] Ibid, 193.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar