BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Peradaban
Babilonia adalah salah satu peradaban yang besar yang ada di dunia pada saat
itu dan sangat memberikan pengaruh besar untuk kehidupan manusia pada saat ini.
Peradaban Babilonia ini dibangun berdasarkan dua periode yaitu Babilonia kuno
yang dipimpin oleh Hammurabi dan Babilonia baru oleh Nebukadnezar, hanya usaha
keduanya pada akhirnya mengalami keruntuhan.[1]
Arnold
Toynbee mengatakan:
Peradaban
Babilonia ini sangat terkenal akan bangunannya yang indah dan mewah, sehingga
arsitektur bangunannya bisa dikatakan arsitektur yang sangat hebat. Peradaban
Babilonia ini menghasilkan berbagai macam kebudayaan mulai dari peralatan,
agama, ilmu pengetahuan, sistem kemasyarakatan, bahasa, sistem perekonomian,
dan juga kesenian.[2]
Kebudayaan yang dihasilkan peradaban Babilon
ini masih banyak yan digunakan dalam kehidupan masa kini, jadi bisa dikatakan
bahwa peradaban Babilonia memberikan pengaruh besar baik untuk kehidupan masa
lalu maupun untuk masa kini.
Peradaban
Mesopotamia-Babilonia berkembang di sekitar sungai Eufrat dan Tigris. “Mesopotamia-Babilonia
terkenal dalam sejarah karena hasil-hasil kebudayaannya yang bernilai tinggi,
terkenal dengan karakteristik kebudayaan yang bisa dikatakan berbeda dengan
hasil kebudayaan masyarakat yang lain.”[3]
Kebudayaan masyarakat Mesopotamia-Babilonia ini memang sudah berkembang maju
sejak puluhan abad yang lalu. Mereka mampu menciptakan kebudayaan yang memiliki
nilai historis yang sangat tinggi yang menjadi karakteristik peradaban itu
sendiri. Peradaban Babilonia Baru pada masa Raja Nebukadnezar merupakan
peradaban yang kaya akan hasil-hasil kebudayaan yang menakjubkan.
B.
Sejarah Munculnya Peradaban
Babilonia
Babilonia
adalah sebuah kerajaan kuno yang di dalamnya terdapat peradaban yang besar yang
berkembang di sekitar sungai Eufrat dan juga Tigris dan sekarang termasuk pada
wilayah Irak Selatan. Ada dua masa yang terkenal berkaitan dengan peradaban
Babilonia ini yaitu Babilonia Kuno atau Babilonia Lama di tangan Raja Hammurabi
dan Babilonia Baru di tangan Raja Nebukadnezar. Sejarah Babilon memiliki
rentang waktu yang sangat panjang sampai ribuan tahun lamanya. Babilon juga
dianggap sebagai pusat peradaban dunia pada waktu itu karena sudah mengenal dan
mengembangkan sistem irigasi, ilmu pengetahuan, kesusastraan, perekonomian, dan
hukum.
Babilon muncul ketika Hammurabi
mendirikan sebuah kerajaan di luar kerajaan Akkadian. Babilonia
pada zaman Sumeria termasuk kota yang kecil dan tidak begitu penting. Syek
Sumuabu mendirikan kerajaan mendirikan kerajaan itu sekitar tahun 185 SM.[4]
Sampai pada keturunan yang ke-6, diangkat sebagai raja adalah Hammurabi.
Usahanya tidak sia-sia sehingga nama Babilonia akhirnya menjadi nama seluruh
negeri yang sebelumnya disebut Sumeria. Pemakaian nama itu jelas dimaksudkan
untuk menjadi lambang kemenangan dan kebesaran Babilonia. Akkadian Semitik sebagai bahasa
resmi, dan mempertahankan bahasa Sumeria dalam bidang keagamaan, yang saat itu
tidak lagi menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Tradisi Akkadia dan Sumeria
memainkan peranan penting di dalam kebudayaan Babilon kelak, dan agama akan
tetap menjadi pusat kebudayaan yang penting.[5]
Pada
kira-kira 2300 SM, Akkad dan Sumeria bersatu menjadi negara Babilonia dengan
ibu kota Babilon. Pada tahun 1955 SM tahta kerajaan Babilon jatuh ditangan
Hammurabi yang pada akhirnya bisa menghancurkan negara yang ada di sekitarnya,
juga mempersatukan Mesopotamia serta mempersatukan daerah daerah jauh yang ada
di sekitarnya pada tahun 1925 SM. Hal yang paling terkenal dari Raja Hammurabi
adalah hukum yang dibuatnya yaitu Hukum Hammurabi. Hammurabi meninggal pada
tahun 1912 SM dan semenjak saat itu sejarah Babilonia menunjukkan penurunan,
sudah ada enam orang yang menggantikan Hammurabi tetap tetap saja tidak bisa
menahan penurunan kondisi kerajaan pada saat itu.
Pada
abad ke-18 datanglah jenis bangsa lain yang menyerbu Mesopotamia yaitu bangsa
Indo-Jerman atau Indo-Eropa yaitu bangsa Hittit yang berdiam di Asia Minor yang
beribukota di Boghazkeui di dekat kota Ankara sekarang.[6]
Bangsa Hittit inilah yang kemudia datang menyerbu dan menghancurkan Babilon. Setelah
bangsa Hittit pergi, Babilon masih bisa dibangun sampai datangnya suku Khassit
yang sama sama berasal dari bangsa Indo-Jerman yang datang dari pegunungan
Persia Barat, dan berakhirlah kerajaan Babilonia Lama atau Kuno yang didirikan
oleh Hammurabi.
Bangsa
Khassit akhirnya bisa menguasai Babilonia 576 lamanya, tetapi mereka pada
umumnya tidak merusak kebudayaan dan tatanegara yang telah dibangun oleh
Hammurabi, dan saingan dari bangsa ini adalah bangsa Assyria. Bangsa Assyria
sendiri, pada saat itu sangat berambisi untuk menguasai Mesopotamia yang
akhirnya melalui perjungannya bisa menduduki seluruk Mesopotamia. Puncak
kejayaan Assyria terdapat di pemerintahan Ashurbanipal, tetapi setelah dia
meninggal keruntuhan mulai terasa sampai pada saatnya terjadi sebuah serangan
dari Nabo-Palasar dan bangsa Madia dari Persia dan dengan demikian tamatlah kerajaan
Assyria yang telah 5 abad lamanya yang telah memerintah dengan tangan besi dan
dengan berbagai macam kekejaman.
Pada
akhirnya kerajaan Assyria dibagi oleh kaum penyerbu, Bangsa Media mendapat
bagian utara yang kemudian bersama-sama dengan Persia mendirikan kerajaan
Persia. Bagian Selatan jatuh pada Nabo-Palasar yang mendirikan kerajaan
Babilonia Baru. Babilonia baru ini mengalami kebesaran kembali dibawah
pemerintahan Nebukadnezar.
BAB II
NAMA RAJA-RAJA BABILONIA
A.
Hammurabi[7]
Hammurabi (bahasa
Akkadia, dari kata Ammu
"saudara laki-laki pihak ayah", dan Rāpi "seorang
penyembuh"); adalah raja keenam dari Dinasti Babilonia pertama (memerintah
1792-1750 SM), dan ia mungkin juga Amraphel,
raja dari Sinoar (Kejadian
14:1). Hammurabi memimpin pasukannya menyerang
Akkadia, Elam, Larsa, Mari dan Summeria, sehingga menjadikan Kekaisaran
Babilonia hampir sama besar
dengan Kerajaan Mesir kuno di bawah Firaun Menes, yang menyatukan Mesir lebih dari seribu tahun sebelumnya.
1.
Piagam Hammurabi
Walaupun Hammurabi banyak sekali melakukan
peperangan menaklukkan kerajaan lain, namun ia lebih terkenal karena pada masa
pemerintahannya dibuat kode resmi (hukum tertulis) pertama yang tercatat di
dunia, yang disebut sebagai Piagam Hammurabi (Codex Hammurabi). Pada
tahun 1901, arkeolog Perancis menemukan piagam tersebut ketika melakukan
penggalian di bawah reruntuhan bekas kota kuno Susa, Babilonia. Piagam Hammurabi tersebut terukir di atas
potongan batu yang telah diratakan dalam huruf paku (cuneiform). Piagam
tersebut seluruhnya ada 282 hukum, akan tetapi terdapat 32 hukum diantaranya
yang terpecah dan sulit untuk dibaca. Isinya adalah pengaturan atas perbuatan
kriminal tertentu dan ganjarannya. Beberapa contoh isinya, antara lain:
·
Seorang yang gagal memperbaiki saluran airnya akan
diminta untuk membayar kerugian tetangga yang ladangnya kebanjiran.
·
Pemuka agama wanita dapat dibakar hidup-hidup jika
masuk rumah panggung (umum) tanpa permisi.
·
Seorang janda dapat mewarisi sebagian dari harta
suaminya yang sama besar dengan bagian yang diwarisi oleh anak laki-lakinya.
·
Seorang dukun yang pasiennya meninggal ketika
sedang dioperasi dapat kehilangan tangannya (dipotong).
·
Seseorang yang berhutang dapat bebas dari hutangnya
dengan memberikan istri atau anaknya kepada orang yang menghutanginya untuk
selang waktu tiga tahun.
Saat ini, Piagam
Hammurabi telah disimpan dan dipamerkan untuk khalayak ramai di Museum
Louvre di Paris,
Perancis.
2.
Arti Penting Hammurabi
Hammurabi selain
merupakan raja, adalah juga seorang pemimpin agama masyarakat Babilonia. Dengan
demikian, Piagam Hammurabi merupakan suatu aturan resmi yang dijalankan oleh
masyarakat dan pemerintahan Babilonia. Diperkirakan bahwa dahulu hukum-hukum yang
diterbitkan dibuat menjadi piagam (dalam bentuk prasasti) dan diperlihatkan
kepada khalayak ramai untuk memperoleh persetujuan. Jadi hukum-hukum bukan
dibuat oleh pemerintah semata-mata agar sesuai dengan pendapatnya sendiri.
Dalam pengertian ini, Piagam Hammurabi dapat dianggap sebagai pendahulu dari
sistem hukum resmi seperti yang saat ini berlaku pada masyarakat modern.
Setelah matinya raja Ashurbanipal pada tahun 627 SM, kerajaan Asyur
terpecah oleh persaingan di dalam. Seorang jenderal Asyur, Sin-shum-lishir,
memberontak dan menguasai Babilon, tetapi langsung digulingkan oleh tentara
Asyur yang setia pada raja Ashur-etil-ilani. Babilon kemudian dikuasai oleh
putra Ashurbanipal yang lain, Sin-shar-ishkun, yang mengangkat diri menjadi
raja. Namun tidak lama kemudian Babilon memberontak dengan bantuan suku Kasdim (Bit Kaldu), yang dipimpin oleh Nabopolassar. Nabopolassar merebut tahta dan
memulai dinasti Neo-Babilonian.
Selama 3 tahun pertama,
Nabopolassar tidak diganggu dalam memperkuat Babilon, karena ada perang saudara
sengit antara raja Asyur Ashur-etil-ilani dan saudaranya Sin-shar-ishkun di
Mesopotamia selatan.
Tahun 623 SM,
Sin-shar-ishkun membunuh saudaranya dalam Perang di Nippur, merebut tahta dan
berusaha merebut Babilon dari Nabopolassar. Selama 7 tahun, Nabopolassar
memukul mundur serangan Asyur, dan tahun 616 SM malah menyerang Assur dan Arrapha, tetapi tidak berhasil.
Kemudian bersama sekutunya, bekas tentara Asyur, orang-orang Media, Persia, Elam dan Scythian, ia menyerang lagi pada
tahun 615 dan 614 SM, kali ini Assur dan Arrapha berhasil direbut. Selama tahun
613 SM tentara Asyur mencoba memukul mundur tentara Babilonia dan Media. Namun
sebaliknya pada tahun 612 SM Nabopolassar dan raja Media, Cyaxares, memimpin tentara
gabungan menyerang Niniwe, mengepungnya selama 3
bulan dan merebutnya. Sejak itu Babilon menguasai Asyur dan wilayah bagian
utara maupun baratnya.
Seorang jenderal Asyur, Ashur-uballit II, menjadi raja
Asyur dan mendirikan ibukotanya di Harran. Nabopolassar dan
sekutunya mengepung Ashur-uballit II di Harran tahun 608 SM dan merebutnya;
Ashur-uballit II menghilang setelah ini. Raja Mesir, Firaun Nekho II menyerang pada tahun 609 SM dalam upaya yang
terlambat untuk membantu sekutunya di Asyur. Nabopolassar (dibantu putra dan
kelak penggantinya, Nebukadnezar II) selama tahun-tahun terakhir
pemerintahannya terus mengusir orang-orang Mesir, yang dibantu tentara bayaran
dari Yunani dan sisa tentara Asyur, dari Siria, Asia Kecil, bagian utara Arabia dan Israel. Nebukadnezar membuktikan kehandalannya dengan
akhirnya mengalahkan tentara Mesir beserta sekutunya dalam perang di Carchemish tahun 605 SM.
Nebukadnezar II menjadi raja setelah ayahnya mati.
Ia membangun semua kota-kota besar Babilonia dengan mewahnya. Ibukotanya,
Babilon, meliputi wilayah seluas 3 mil persegi, dikelilingi oleh rawa-rawa dan
dua lapis dinding tebal. Sungai Eufrat mengalir di tengah kota, dihubungkan dengan
jembatan batu yang indah. Di tengah kota ada ziggurat raksasa yang disebut Etemenanki, "Rumah perbatasan langit dan bumi," di
sebelah kuil dewa Marduk.
Nebukadnezar berhasil menaklukkan
Siria dan Fenisia, memaksa upeti dari Damaskus, Tirus dan Sidon. Ia juga menyerang Asia Kecil, di tanah "Hatti". Tahun 605 SM ia
menduduki Yerusalem dan mendapatkan upeti dari Yoyakim, raja Yehuda.
Seperti Asyur,
Babilonian berperang setiap tahun untuk menguasai jajahannya. Tahun 601 SM
Nebukadnezar berperang lagi melawan Mesir. Tahun 599 SM ia menyerang Arabia dan mengalahkan mereka di Qedar. Tahun 597 BC ia
menyerang Kerajaan Yehuda dan merebut Yerusalem serta menawan raja Yoyakhin, membawanya dalam pembuangan, dan menempatkan Zedekia, paman Yoyakhin menjadi raja. Mengambil kesempatan perang antara
Mesir dan Babilon, raja Zedekia mencoba memberontak.
Setelah dikepung 18 bulan Jerusalem direbut lagi tahun 587 SM, ribuan orang
Yahudi dibuang ke Babel dan Bait Suci dihancurkan sampai rata tanah.
Pada tahun 572 Nebukadnezar menguasai penuh Babilonia,
Asyur, Fenisia, Israel, Filistin, Arabia utara dan sebagian Asia Kecil. Nebukadnezar terus berperang dengan Firaun Psammetichus II dan Apries (Hofra) selama
pemerintahannya, dan pada zaman Firaun Amasis II tahun 568 SM, ia diduga
menginjakkan kaki di tanah Mesir.
Ewil-Merodakh adalah putra dan penerus Nebukadnezar II. Ia memerintah hanya 2 tahun (562 –
560 SM). Menurut Kitab 2
Raja-raja di Alkitab, ia mengampuni dan
melepaskan raja Yoyakhin, dari Kerajaan Yehuda, yang ditawan di Babel selama 37
tahun (sejak tahun 597 SM).[1] dimana ditulis bahwa:
“Kemudian dalam tahun ke-37 sesudah Yoyakhin, raja Yehuda dibuang, dalam
bulan yang ke-12, pada tanggal 27 bulan itu, maka Ewil-Merodakh, raja Babel,
dalam tahun ia menjadi raja, menunjukkan belas kasihannya kepada Yoyakhin, raja
Yehuda, dengan melepaskannya dari penjara. Ewil-Merodakh berbicara baik-baik
dengan dia dan memberikan kedudukan kepadanya lebih tinggi dari pada kedudukan
raja-raja yang bersama-sama dengan dia di Babel.”
- 2 Raja-raja 25:27-28
Menurut Kitab Yeremia pasal 52:31-32 Ewil-Merodakh melepaskan Yoyakhin
tanggal 25. Diduga karena berusaha
mengubah kebijakan ayahnya, Ewil Merodakh dibunuh oleh Nergal-sarezer atau Neriglissar, iparnya yang kemudian
merebut tahtanya.
Nergal-sarezer
atau Neriglissar memerintah dengan stabil, melakukan banyak pekerjaan
umum, termasuk memperbaiki kuil dan sebagainya. Ia juga berhasil menyerang Silisia, yang mengancam
Babilon. Neriglissar hanya bertahta 4 tahun sebelum diganti putranya, Labashi-Marduk yang masih muda. Tidak jelas apakah Neriglissar
dari suku Kasdim atau penduduk asli kota Babilon.
Labashi-Marduk adalah putra Nergal-sarezer atau Neriglissar, yang meneruskan tahta
ketika masih kecil. Ia dibunuh dalam satu persepakatan 9 bulan setelah
dinobatkan. Ia digantikan oleh Nabonidus.
Latar belakang Nabonidus tidak jelas. Dalam satu tulisan peninggalannya, ia
menyebut latar belakangnya tidak penting. Ibunya yang hidup sampai usia tua dan
tinggal di kuil dewa bulan Sîn di Harran juga tidak menyebut
asal-usulnya. Menurut Tawarikh
Nabonidus mulai tahun ke-7 pemerintahannya (549 SM) ia
mengasingkan diri ke kota Tema di Arabia dan menyerahkan pemerintahannya pada
putra sulungnya, Belsyazar.
Belsyazar menjadi raja atas nama ayahnya, Nabonidus, selama
10 tahun ayahnya di pengasingan (menurut Tawarikh
Nabonidus). Kitab Daniel mencatat bahwa Nebukadnezar disebut
sebagai ayahnya. Istilah "ayah" dapat berarti "kakek" atau
"leluhur", termasuk juga "ayah angkat". Pada tahun 539 SM,
Nabonidus pulang ke Babilon untuk menghadapi ancaman serangan Koresh, raja Persia, tetapi tidak berhasil menahan serbuan ini.
Menurut Kitab Daniel, Belsyazar mati
terbunuh pada malam tentara Persia berhasil masuk dan
merebut ibukota Babilon yang berdasarkan
perhitungan waktu sejarah terjadi pada tanggal 15 Oktober 539 SM. Dalam catatan-catatan Babel maupun Persia,
namanya tidak disebutkan lagi setelah tanggal ini.
BAB
III
KEKAISARAN BABILONIA KUNO
A.
Babilonia
Kuno[15]
Ketika Hammurabi (yang juga adalah orang Amoriah) naik
tahta menjadi raja Babilon, kekaisaran itu hanya terdiri dari beberapa kota dan
sedikit wilayah sekitarnya: Dilbat, Sippar, Kish, dan Borsippa. Setelah Hammurabi menjadi raja, dia berhasil memperoleh
banyak sekali kemenangan militer dengan menaklukan kota-kota lain yang dapat
memberi keuntungan bagi Babilon.
Dengan kemenangan-kemenangan militernya itu, banyak tanah yang direbut oleh
kekaisaran. Akan tetapi, meskipun Babilon sudah menjadi jauh lebih kuat berkat Hammurabi,
Babilon masih belum menjadi daerah penting di Mesopotamia, tidak seperti Assyria, yang ketika itu dipimpin oleh Shamshi-Adad I, ataupun Larsa, yang ketika itu dipimpin oleh Rim-Sin.
Pada tahun ketiga belas Hammurabi sebagai raja, dia mulai
menjadikan Babilon sebagai pusat dari apa yang nantinya akan menjadi kekaisaran
besar. Pada tahun tersebut, dia merebut Larsa dari Rim-Sin, serhingga dia kini memeiliki kendali atas pusat-pusat
perkotaan yang menguntungkan seperti Nippur, Ur, Uruk, dan Isin. Dengan kata lain, Hammurabi memperoleh kendali atas
seluruh Mesopotamia selatan. Kekuatan politik lainnya yang patut diperhitungkan
di daerah itu pada milenium kedua adalah Eshnunna, yang berhasil direbut oleh Hammurabi sekiatar tahun
1761 SM. Babilon kemudian memanfaatkan jalur perdagangan Eshnuna yang sudah
sangat mapan serta kestabilan ekonomi yang mereka meiliki. Tidak lama setelah
itu pasukan Hammurabi merebut Mari, kota terakhir yang memberinya kendali atas seluruh
wilayah yang membentuk Mesopotamia di bawah Dinasti Ketiga
Ur pada milenium ketiga.
Babel
tetap menjadi negara kota kecil sampai masa pemerintahan penguasa keenam, Hammurabi
(1792 - 1750 SM). Dia adalah penguasa yang sangat efisien, membangun birokrasi,
dengan pemerintah perpajakan dan terpusat. Dia memperluas dominasi Babilonia
atas seluruh selatan Mesopotamia, dan itu dari waktu ini bahwa selatan itu
harus disebut sebagai sejarah Babilonia. Penaklukan Hammurabi memberikan
stabilitas wilayah setelah bergolak kali.
Tentara
Babilonia di bawah Hammurabi dengan baik-disiplin, para Elam, Gutians
dan Kassites ke
timur dari Mesopotamia yang tewas dan menaklukkan, dan kota-negara dan
kota-kota dari Isin, Eshnunna, Uruk, Ur, Kish, Larsa
dan Lagash
yang dimasukkan menjadi negara besar Babel. Untuk bagian barat utara, Semitik
negara Mari (Suriah)
ditaklukkan. Hammurabi mengadakan perang berlarut-larut dengan Asyur
untuk menguasai Mesopotamia dan Timur Dekat, yang telah mengukir sendiri sebuah
kerajaan di bawah Shamshi-Adad
I
sebelum naik ke kekuasaan Hammurabi. Setelah perjuangan yang belum
terselesaikan berlarut-larut selama puluhan tahun dengan raja Asyur Ishme-Dagan ,
Hammurabi memaksa para penerusnya untuk membayar upeti kepada Babel, sehingga
memberikan kontrol Babilonia atas Asyur Hattian
dan Hurrian
koloni di Asia Kecil.
Salah satu karya yang paling penting dari ini "Dinasti
Pertama Babel", seperti yang disebut oleh sejarawan
pribumi, merupakan kompilasi dari kode hukum
yang bergema dan diperbaiki hukum sebelumnya tertulis Sumeria, Akkad
dan Asyur.
Hal ini dibuat atas perintah Hammurabi setelah pengusiran Elam
dan penyelesaian kerajaannya. Setelah kematian Hammurabi, kerajaannya mulai
hancur dengan cepat. Di bawah penggantinya Samsu-Iluna
(1749-1712 SM) yang jauh di selatan Mesopotamia hilang untuk seorang raja
Akkadia asli disebut Ilum-ma-ili
dan menjadi Dinasti
Sealand , tetap bebas dari Babel selama 272 tahun ke depan. Baik
Babel dan penguasa Amori mereka diusir dari Asyur ke
utara oleh gubernur Asyur-Akkadia bernama Puzur-Sin ,
dan setelah satu dekade perang sipil, seorang raja bernama asli Adasi
merebut kekuasaan sekitar tahun 1730 SM, dan pergi ke mantan yang tepat Babel
wilayah di pusat Mesopotamia.
B.
Masa
Pemerintahan Hammurabi[16]
Hammurabbi
adalah raja Bablonia yang memerintah sejak 1792-1750 BC. Permulaan lahirnya
Babilonia dianggap dimulai sejak pemerintahan Hammurabi, walaupun sebenarnya
dia adalah raja ke 6 dari dinastinya. Puncak kejayaan Babilonia Lama adalah
pada masa pemerintahan Raja Hammurabi (1800 SM). Perubahan-perubahan terjadi
pada masa Hammurabi. Perubahan terjadi pada bidang agama dan kebudayaan. Jasa Hammurabi yang terbesar terlihat dalam karyanya, yaitu
kitab undang-undang yang terkenal dengan nama "Undang-Undang
Hammurabi". Di dalam kitab itu tercantum peraturan-peraturan tentang
perdagangan dan hukum perdata dan larangan-larangan bahwa orang tidak boleh
menjadi hakim sendiri. Undang-undang tersebut pada dasarnya menerapkan asas
pembalasan. Undang-undang Hammurabi ditulis dengan huruf paku. Undang-undang
tersebut ditemukan di kota Susa pada tahun 1901 M. Tugu undang-undang Hammurabi
berbentuk segi delapan, tingginya 20 meter dan terdiri atas 181 bab.
Hammurabi sangat aktif dalam membangun dan
memperbaiki tempat ibadah, dinding kota dan gedung publik, membangun kanal
untuk irigasi dan juga berperang. Hal utama yang menjadi perhatian Hammurabi
semasa pemerintahannya adalah untuk menjamin penguasaan penuh bangsa Babilonia
atas sungai Euphrates, sumber kehidupan negaranya.
Kelimpahan
tanah liat dan kurangnya bebatuan di Babilonia menyebabkan besarnya produksi
dan penggunaan bata yang terbuat dari tanah liat. Kuil-kuil di Babilonia
terbuat dari struktur batu bata mentah sebagai penopangnya dan ada semacam
saluran air untuk air hujan di kuil-kuil tersebut. Salah satu saluran air di
Ur, terbuat dari timah. Penggunaan bata tanah liat ini menuntun ke awal
perkembangan penggunaan pilaster dan kolom, dibuatnya lukisan-likisan di
dinding dan juga penggunaan ubin berenamel. Dinding-dinding mulai diwarnai
dengan berbagai berwarna dan kadang disepuh dengan seng atau emas serta
penggunaan ubin sebagai lantainya. Pewarnaan terracotta di bagian atas kuil juga digunakan untuk pemlesterannya.
Ada beberapa
dokumen kuno dari masa Babilonia Lama yang membahas tentang aplikasi matematika
untuk menghitung panjangnya periode siang hari selama tahun matahari.
Segi empat Astrolabe tertua yang ditemukan di catatan,
tertanggal tahun 1100 sebelum masehi. Mul-Apin sebuah catatan kuno yang berisi
katalog bintang dan rasi bintang dan juga skemanya untuk memprediksi waktu
terbitnya matahari dan juga tentang tata letak planet-planet, panjang waktu
satu hari yang diukur dengan jam air, Gnomon, bayangan dan juga sisipan-sisipan
astronomi.
Teks GU
bangsa Babilonia berisi tentang pengaturan letak bintang-bintang dalam suatu
‘string’ yang berada di sepanjang lingkaran deklinasi sehingga dapat dihitung
ukurannya serta interval waktunya, juga untuk menilik bintang zenith yang
dipisahkan oleh perbedaan yang terlihat.
Catatan tertua tentang ilmu
kedokteran ditemukan pada abad ke-2 sebelum masehi saat dinasti Babilonia
pertama. Teks medis Babilonia yang terkenal luas berjudul Diagnostic Handbook yang ditulis oleh seorang dokter bernama Esagil
kin Apli dari Borsippa pada masa pemerintahan Raja Adad Iddina Apla.
Bersama dengan ilmu kedokteran
kontemporer Mesir kuno, orang Babel memperkenalkan konsep diagnosis, prognosis,
pemeriksaan fisik dan pemberian resep. Selain itu, The Diagnostic Handbook juga memperkenalkan metode terapi dan
aetiologi serta penggunaan empirisme, logika dan rasionalitas dalam hal
diagnosis, prognosis dan juga terapi. Catatan tersebut juga berisi daftar
gejala-gejala medis dan juga pengamatan empiris yang detail dengan aturan
logika yang digunakan untuk menggabungkan gejala yang diamati dari seorang
pasien dengan diagnosis dan prognosis.
The Diagnostic Handbook ditulis berdasarkan
aksioma-aksioma dan juga asumsi-asumsi logis, termasuk pandangan moderen
tentang pemeriksaan dan pemeriksaan gejala pasien yang memungkinkan para dokter
mengetahui penyakit yang diderita oleh pasien, aetiologi dan perkembangannya
juga seberapa besar kemungkinan pemulihan pasien tersebut. Kemudian dalam
beberapa waktu, ilmu kedokteran Babel semakin menyerupai kedokteran Yunani
dalam banyak hal.
Ada beberapa perpustakaan yang di
bangun di beberapa kota dan di dalam kuil, sebuah pepatah Sumeria kuno
menegaskan “dia yang akan unggul menjadi seorang ahli tulisan, harus bangkit
bersama fajar”.
Ada banyak karya sastra dari
Babilonia yang terkenal di seluruh dunia. Yang paling terkenal adalah Epic of
Gilgamesh yang terangkum dalam 12 buku
yang diterjemahkan dari bahasa Sumeria asli oleh Sin Liqi Unninni yang disusun
berdasarkan prinsip astronomi. Tiap divisi dari buku-buku tersebut berisi
cerita tentang petualangan Gilgamesh yang menjadi tokoh sentral dari
keseluruhan cerita.
BAB
IV
KEKAISARAN BABILONIA BARU
A.
Babilonia Baru[21]
Selama berabad-abad dominasi Asiria,
Babilonia menikmati status menonjol, atau memberontak pada indikasi sedikit pun
bahwa itu tidak. Asyur selalu berhasil mengembalikan loyalitas Babel,
bagaimanapun, baik melalui pemberian hak istimewa meningkat, atau kekuatan
militer. Yang akhirnya berubah setelah 620 SM, tujuh tahun setelah kematian
penguasa Asyur besar terakhir, Ashurbanipal
tahun 627 SM. Asyur turun menjadi serangkaian perang sipil brutal internal,
Ashur-etil-Ilani digulingkan oleh salah satu jenderalnya sendiri, yang bernama Sin-shumu-lishir ,
yang juga menempatkan dirinya sebagai raja di Babel. Setelah lain perang
saudara yang brutal, Sin-shar-ishkun
digulingkan dia sebagai penguasa Asyur dan Babilonia. Namun, ia dilanda oleh
perang saudara konstan tak henti-hentinya di jantung Asyur. Babilonia mengambil
keuntungan dari ini dan memberontak di bawah Nabopolassar ,
anggota dari Semitik Kasdim ,
yang telah menetap di selatan timur Mesopotamia sekitar 1000 SM.
Pada 620 SM Nabopolassar merebut kendali atas
sebagian Babilonia dengan dukungan dari sebagian besar penduduk, dengan hanya
kota Nippur
memperlihatkan kesetiaan kepada raja Asyur. Selama 4 tahun berikutnya ia harus
bersaing dengan Asyur tentara berkemah di Babel berusaha meraih kemenangan.
Namun, raja Asyur, Sin-shar-ishkun diganggu oleh pemberontakan konstan di Niniwe ,
dan dengan demikian tidak mampu untuk mengeluarkan Nabopolassar. Kebuntuan
berakhir pada 616 SM, ketika Nabopolassar mengadakan aliansi dengan Cyaxares,
raja Media
dan Persia,
dan juga Scythians
dan Cimmerians .
Setelah 4 tahun pertempuran sengit Niniwe
dipecat pada tahun 612 SM setelah pengepungan berkepanjangan pahit yang
Sin-shar-ishkun tewas. Asyur lalu Raja, Ashur-uballit
II , pindah
ibukota ke Harran di
mana ia mengulurkan sampai 608 SM, ketika ia akhirnya dikeluarkan oleh Babel
dan sekutu mereka. Sebuah kemenangan akhir dicapai pada Karkemis di
605 SM, yang juga termasuk mengalahkan Mesir
Firaun Nekho II
yang terlambat mencoba untuk membantu master mantan Mesir. Kursi kerajaan
dengan demikian dipindahkan ke Babel untuk kali pertama sejak Hammurabi
lebih dari seribu tahun sebelumnya.
Nabopolassar diikuti oleh anaknya Nebukadnezar
II ,
yang memerintah dari 43 tahun membuat Babel sekali lagi nyonya besar dunia yang
beradab, mengambil alih porsi yang adil dari mantan Kekaisaran
Asyur pernah diperintah oleh saudara-saudara Asyur, timur dan
utara bagian timur menjadi diambil oleh Media dan jauh di utara oleh Scythians .
Kerajaannya termasuk menaklukkan Phoenicia di
585 SM, serta Aramea (Suriah), Israel, Yehuda
dan bagian dari Asia Kecil dan Arabia .
Hanya sebuah fragmen kecil dari sejarah itu telah ditemukan, yang berkaitan
dengan invasi ke Mesir di 567 SM, dan merujuk pada "Phut dari Ionia".
Dari
pemerintahan raja Babel terakhir, Nabonidus (Nabu-na'id),
dan penaklukan Babilonia oleh Cyrus ,
ada cukup banyak informasi yang tersedia. Nabonidus dan putranya, bupati Belsyazar
tidak Kasdim atau Babel, namun ironisnya berasal dari ibukota Asyur terakhir Harran .
Informasi mengenai Nabonidus ini terutama berasal dari tablet yang berisi
kronologis sejarah Nabonidus, ditambah dengan yang lain prasasti Nabonidus di
mana ia menceritakan restorasi nya kuil dewa bulan di Harran, serta oleh
proklamasi Cyrus dikeluarkan segera setelah ia pengakuan formal sebagai raja
Babilonia. Saat itu di tahun keenam Nabonidus (549 SM) bahwa Cyrus, Achaemenid
Persia "raja Anshan
"di Elam, memberontak terhadap daerah kekuasaannya Astyages ,
"raja Manda" atau Medes, di Ecbatana .
Tentara Astyages 'mengkhianatinya ke musuhnya, dan Cyrus mendirikan dirinya di
Ecbatana, sehingga mengakhiri kerajaan Media. Tiga tahun kemudian Cyrus telah
menjadi raja dari semua Persia, dan terlibat dalam kampanye di Asyur. Sementara
itu, Nabonidus telah mendirikan kamp di gurun Arabia, dekat perbatasan selatan
kerajaannya, meninggalkan anaknya Belsyazar (Belsharutsur)
dalam komando tentara. Pada 539 SM Cyrus menyerang Babilonia, pemimpin
terakhir Babylonia menyerah kepada Cyrus Agung dari Persia. Dan ini adalah
pertanda berakhirnya kekaisaran Babilonia.
Nebukadnezar
adalah putra tertua Nebopalasar yaitu seseorang yang merupakan pendiri kerajaan
Babilonia Baru. Nebukadnezar pada awalnya hanya ditugaskan sebagai komandan
militer, tetapi pada akhirnya menjadi raja sesudah ayahnya meniggal dunia. Dia menikah
dengan seorang putri yang merupakan anak dari Cyaxares, yang kemudian ini bisa
dikatakan perkawinan politik karena bisa menyatukan dinasti Median dan Babilon.
Nebukadnezar ini adalah sosok yang sangat terampil ketika berperang dan dia
juga sangat pandai dalam berpolitik. Pada masa kekuasaan Nebukadnezar, Babilon
merupakan kota terbesar dari kota yang ada di dunia pada saat itu Luasnya
diperkirakan 1000 hektar dengan sungai Euprat yang melewati kerajaan itu.
Kota
Babilon yang tadinya hanya berupa reruntuhan, dibangun kembali menjadi sebuah
kota yang indah dan megah dibawah kekuasaan Nebukadnezar. Pembangunan yang dia
lakukan, bukanlah pembangunan yang cuma-cuma tetapi pembangunan yang dilakukan
secara besar-besaran sampai mengerahkan semua budak yang ada di Babilon pada
saat itu sehingga Babilon menjadi sebuah kota yang indah dan melegenda. Kota
Babilon yang indah itu dikelelingi parit dan dinding ganda, dengan sungai
Euprat yang mengalir melewati pusat kota dan dihubungkan dengan jembatan batu
yang indah. Di pusat kota juga dibangun sebuah ziggurat raksasa yang
disebut Etemenanki (Rumah Perbatasan Antara Surga dan Bumi) yang terletak di
depan kuil Marduk.
Sebagai seorang pemimpin yang cakap,
Nebukadnezar telah banyak melakukan perang militer dengan berbagi bangsa salah
satunya perang militer di Syiria dan Phoenicia, memaksakan setoran upeti dari
Damaskus, Tyre, dan Sidon, Dia pun melakukan perang demi terciptanya
koloni-koloni seperti yang terjadi di Asia Kecil, ayitu di daratan Haiti. Pada
tahun 601 SM terlibat pertempuran Besar dengan Mesir dan pada tahun 599
SM menyerang Arabia. Pada tahun 597 SM menyerang Israel dan merebut Jerussalem
sekaligus menggulingkan raja Jeholakin, Pada akhirnya Mesir dan Babilon pun
terlibat perang untuk menguasai timur dekat di sepanjang masa
pemerintahan Nebukadnezar dan hal inilah yang mendorong raja Zedekiah
dari Israel untuk memberontak. Tetapi ternyata setelah 18 bulan Jerussalem
dapat direbut pada 587 SM dan ribuan Yahudi pun di deportasi ke Babilon dan
kuil Solomon diratakan dengan tanah.
Ada
pun hasil kebudayaan Babilonia Baru berdasarkan tujuh unsur kebudayaan mereka tersebut,
yaitu:
1.
Alat
Perlengkapan Hidup
Masyarakat Babilon merupakan masyarakat yang mulai mengenal
adanya perabotan dan peralatan dalam kehiudpan mereka, semua bisa terlihat dari
pembangunan kota Babilon yang indah. Masyarakat Babilon sudah mengenal adanya
penggunaan guci sebagai alat yang digunakan untuk menyimpan air. Masyakata Babilon
juga sudah mengenal perlogaman dan juga emas sehingga banyak menciptakan dan
menggunakan alat-alat yang terbuat dari logam. Selain itu, karena tekstur tanah
Babilon yang banyak menghasilkan tanah liat maka mereka banyak menggunakan
tanah liat dalam membuat dinding baik itu peralat rumah, dinding rumah maupun
kuil.
2.
Mata
Pencaharian dan Sistem Ekonomi
Mata pencaharian dan sistem ekonomi
yang banyak digunakan oleh masyarakat Babylon jika diperhatikan dari
aktivitasnya mereka termasuk masyarakat yang juga hidup dari perniagaan atau
perdagangan. Barang yang mereka perdagangkan berupa logam, perunggu ataupun
timah putih dan hitam, mereka juga terjun dalam perdagangan gandum, sutera, kayu
manis, dan yang lainnya. Babilon pun terkenal dengan kota yang memiliki sistem
pengairan atau irigasi yang bagus, taman gantung pun salah satu bukti bahwa di
Babilon sistem pengairan yang digunakan sudah bagus. Didukung oleh pengairan
yang bagus maka, sistem pertanian banyak dilakukan oleh masyarakat Babilon.
Masyarakat Babilon juga mengenal perternakan buktinya mereka banyak
mempergunakan binatang sebagai alat transportasi. Binatang yang dijadikan hewan
peliharaan yaitu domba, kuda, dan yang lainnya.
3.
Sistem
Kemasyarakatan
Sistem
pemerintahan tertinggi pada masyarakat dipegang oleh seorang raja yang memiliki
kekuasaan absolut yang melaksanakan kekuasaan legislative, judikatif, dan juga
eksekutif sekaligus. Di bawah kedudukan raja adalah sekelompok gubernur atau
pejabat yang ditunjuk oleh raja, walikota ataupun badan sesepuh yang ada di
kota pemerintahan lokal.
Masyarakat
Babylon terdiri dari tiga kelas yaitu :
1. Awilu yaitu kelompok orang bebas
dari kelas atas
2. Muskenu yaitu orang bebas dari kelas
bawah.
3. Wardhu atau budak
Wardhu atau budak, pada awalnya
adalah mereka yang merupakan tawanan perang, ada juga dari mereka yang akhirnya
dijadikan penduduk Babylon yang berstatus bebas. Orang yang berstatus bebas
bisa saja turun kelas sosialnya jika mereka melakukan sesuatu hal yang akhirnya
menimbulkan sebuah hukuman.
4.
Bahasa
Bahasa yang digunakan masyarakat
Babilon adalah bahasa yang dulu digunakan oleh bangsa Sumeria, karena mereka
mengangap bahwa bangsa Sumeria adalah bangsa yeng pernah menempati tempat
mereka pada saat ini, sehingga disebutlah bahasa kesatuan Sumeria. Sistem
penulisan yang dikembangkan oleh bangsa Babylon dulunya juga dikembangkan oleh
bangsa Sumeria yaitu penulisan cuneiform.
5.
Kesenian
dan Bangunan
Peradaban
Babilon memang sangat terkenal dengan seni dan arsitekturnya. Karena Babilon
banyak menghasilkan tanah liat maka kebanyakan bangunan yang didirikan di sana
banyak menggunakan tanah liat. Penggunaan batu bata pada saat itu membuat
bangsa ini mulai mengenal plester dan kolom, langit, langit juga penggunaan
keramik putih. Kuil yang ada di Babilon biasanya dibangun dengan dinding
yang diwarnai dan kadang dilapisi logam atau emas juga kadang-kadang digunakan
keramik sebagai pelapis dinding. Selain kemegahan dari sebuah kuil, Babilon ini
juga terkenal dengan arsitektur yang dibuat pada taman gantung dan juga menara
babel.
Selain pembangunan dalam hal
arsitektur yang dihiasi tanah liat, Babilon juga terkenal dengan seni pahatan
yang sangat hebat. Sehingga batu-batu disana sangat berhaga karena bisa dijadikan
sebagi pahatan terutama untuk pahatan patung. Pahatan yang dihasilkan
kebanyakan adalah berbentuk tiga dimensi. Rumah-rumah penduduk pun sudah banyak
yang dibangun dengan baik dan sudah terdapat kamar mandi di dalamnya. Pada masa
Nebukadnezar juga banyak rumah yang dengan atap datar yang ditopang dengan
kayu-kayu yang dilumuri lumpur, bagi orang miskin tidak akan mampu mendapatkan
kemewahan kayu hanya bisa membangun pondokan melingkar yang batu bata yang
ditopang dengan tiang pusat, dinding-dindingnya dilapisi rumput-rumput panjang
dan tanah liat. Salah satu hasil keindahan arsitekturnya adalah:
a.
Taman Gantung
Taman
gantung ini begitu terkenal bahkan sampai sekarang, walaupun keberadaannya
masih dipertanyakan, entah itu mitos ataulah sebuah kenyataan. Menurut cerita
bahwa taman ini di bangun untuk menghibur istri Nebukadnezar yang bernama
Amyitis yang rindu pada kampung halamannya. Amyitis, saudara perempuan raja
Medes yang dinikahi oleh Nebukadnezar untuk menciptakan penyatuan antar bangsa.
Kampung halaman tempat permaisuri berasal dari yang tanhnya hijau, rimbun dan bergunung-gunung
dan dikota Babilon terdapat tanah yang datar, permukaan tanah Mesopotamia yang
terbakar terik matahari yang membuatnya tertekan.
Menurut Diodorus Siculus, seorang
sejarawan yunani mneyatakan bahwa tempat dimana taman itu berdiri terdiri dari
lempengan batu besar yang ditutup dengan lapisan rumput, aspal dan ubin. Di
atas diletakkan penutup dengan lembaran timah, yang kalau ada air merembas
melalui tanah tidak membusukkan fondasi. Diatas semua itu diletakkan tanah
dengan kedalaman yang pas, yang cocok untuk pertumbahan pohon-pohon besar.
Ketika tanah yang ditimbun sudah rata dan datar, ditanamlah semua jenis pohon,
yang keagungan dan keindahannya membuat senang pengunnjung. (Adrison, 2010: 17)
b.
Menara Babel
Banyak
ahli yang membuat kesimpulan bahwa menara Babel merupakan salah satu zigurat
yang didirikan oleh bangsa Babilonia kuno. Tapi Babel bukan Babilonia, dan
Menara Babel bukan merupakan zigurat. Bahkan mungkin Menara Babel bukan
merupakan sebuah menara. Menurut time
line sejarah di Alkitab, kota Babel telah lama ada sebelum zaman kerajaan
Babilonia. Jadi bisa dipastikan Menara Babel tidak ada hubungan dengan Taman
Gantung atau zigurat-zigurat yang didirikan untuk memuja Dewa Marduk. Dalam
Alkitab juga tidak disebutkan bahwa Menara Babel dihancurkan. Melainkan
penduduk Babel meninggalkan kota itu dan kemudian terpencar ke seluruh dunia.
Sampai saat ini Menara Babel merupakan misteri yang belum berhasil diungkap oleh
para ahli sejarah. Namun ada berbagai macam legenda rakyat dari peradaban kuno
yang menceritakan menara Babel ini.
c.
Ziggurat
Ziggurat adalah monumen besar yang dibangun di lembah
Mesopotamia Kuno dan dataran tinggi Iran bagian barat, yang berbentuk piramida
berundak yang tersusun atas kisah atau tingkat yang mundur. Terdapat 32
ziggurat di dan dekat Mesopotamia yang diketahui. 28 terletak di Irak, dan 4 ada di Iran. Ziggurat merupakan tempat pemujaan
para dewa orang para pendeta wanita, tetapi juga merupakan tempat perdagangan
atau ekonomi. karena seluruh hasil panen yang dihasilkan oleh orang mesir di
kumpulkan di dalam kuil. Dan ketika tiba musim pancaroba, maka kuil tersebut
akan dibuka dan hasil panen yang telah dikumpulkan akan dibagi kan kepada para
penduduk. dan ini merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kehidupan.
6. Sistem Pengetahuan
a. Astronomi
Dari banyak ilmu yang ada, astronomi dan astrologi masih
menduduki peringkat pertama di antara masyarakat Babel. Astronomi adalah ilmu
tertua di Babilonia. Zodiak yang saat ini kita kenal, merupakan penemuan orang
Babilonia yang sangat tua. Pada masa itu, para Babel sudah bisa meramalkan
kapan terjadinya gerhana matahari atau bulan. Ada banyak teks kuno yang
menyebutkan tentang penelitian orang Mesopotamia tentang gerhana.
Astronomi Babilonia dipercaya menjadi dasar untuk ilmu
astronomi di berbagai daerah lain di seluruh dunia, termasuk astronomi
Hellenistik dan Yunani, astronomi klasik India, astronomi Sassania, Bizantium
dan Syiria, astronomi Islam, astronomi Asia Tengah serta astronomi Eropa Barat.
Teks astronomi tertua yang signifikan adalah catatan 63 hari dari “Enuma Anu
Enlil”, catatan venus dari Ammi-Sadupa yang mencatatat kenaikan venus pertama
dan terakhir di sepanjang periode sekitar 21 tahun. Dicatat juga bukti paling
awal kemunculann sebuah planet yang diakui sebagai sesuatu yang terjadi secara
berkala.
Selain
itu, penanggalan astrolabe bujur
sangkar tertua pada zaman Babilonia 1100 SM. Mul Apin, berisi catalog
bintang-bintang dan susunan juga skema untuk memprediksi naiknya hellacal dan
susunan planet-planet, lamanya matahari bersinar dikukr dengan jam air, gnomon,
bayangan, dan lorong-lorong cahaya. Teks Babilon menyusun bintang-bintang
kedalam sebuah deretan yang terletak dispenajnag lingkaran yang menurun yang
digunakan untuk mengukur interval waktu, dan juga menggunakan bintang-bintang.
b. Matematika
Teks
matematik Babel sangat banyak jumlahnya dan teredit dengan sangat baik. Sistem
matematik Babel adalah sexagesimal atau bilangan berbasis 60. Oleh karena itu,
di masa moderen sekarang penggunaan angka 60 seperti 60 detik dalam satu menit,
60 menit dalam satu jam, dan 360 atau 60x6 dalam derajat lingkaran. Pencapaian
dalam ilmu matematika lainnya yaitu ditemukannya penentuan nilai akar kuadrat,
bahkan para ilmuan Babel telah mendemonstrasikan teori Pythagoras.
Catatan kuno tentang kuadrat dan kubus yang dihitung menggunakan angka 1 hingga
60, ditemukan di Senkera dimana orang-orang telah menegenal jam matahari,
clepsydra, juga tuas dan katrol, padahal saat itu mereka belum memiliki pengetahuan
tentang mekanika. Bangsa Babel juga sudah lama mengenal lensa kristal dan
penyalaan bubut sebelum ditemukan oleh Austen
c.
Filsafat
Asal-usul
filsafat Babilonia dapat ditelusuri kembali ke awal Mesopotamia literatur
kebijaksanaan, yang diwujudkan filosofi kehidupan tertentu, khususnya etika,
dalam bentuk dialektika, dialog, puisi epik, cerita rakyat, himne, lirik,
prosa, dan peribahasa. Babel penalaran dan rasionalitas dikembangkan di luar
empiris pengamatan. Ada kemungkinan bahwa Babel filsafat memiliki pengaruh
terhadap Yunani, terutama filsafat Helenistik.
d.
Literatur
Pada
masa ini banyak dirikan perpustakaan dan kebanyakan dari orang Babilon sudah
mengenal tulisan sehingga bisa membaca dan juga menulis. Sejumlah literature
Babilon diterjemahkan dari bahasa Sumeria, bahasa agama, bahasa hukum yang
kemudian menjadi bahasa kestuan Sumeria. Ada banyak karya sastra yang lahirdan
judul yang paling terkenal yaitu Epic Gilgamesh dalam 12 buku yang
diterjemahkan dari Sumeria awal dan disusun berdasakan prinsip-prinsip
astronomi, Setiap bagian cerita merupakan cerita petualangan tunggal Gilgamesh,
Seluruh cerita merupakan sebuah hasil gabungan yang nanti akan dilekatkan pada
tokoh pusat.
7.
Religi
Pada zaman ini mereka memiliki banyak dewa tetapi yang
mereka puja yaitu dewa yang pertama ialah dewa Marduk sehingga mereka banyak
mendirikan kuil-kuil di dalam istana maupun di luar istana yang bisa disebut
juga dengan Ziggurat. Tetapi masyarakat Babilonia sendiri lebih percaya dengan
bintang-bintang daripada Tuhan, karena apapun yang terjadi dalam kehidupan
mereka, mereka lebih percaya ramalan bintang daripada kehendak Tuhan.
BAB
V
BABILONIA
DALAM ZAMAN ISRAEL
Alkitab
memberikan beberapa referensi mengenai Babel sebagai berikut:
o
2 Raj. 17:24, 30, “Babel
menjadi jajahan kerajaan Asyur dan sebagian penduduknya dipindahkan raja Asyur
ke Samaria (bersama-sama bangsa lainnya juga).”
o 2
Raj. 20:12-19, “Bersahabat
dengan raja Hizkia, tetapi dinubuatkan oleh Yesaya bahwa Israel akan ditawan ke
Babel.”
o 2
Raj. 24:1, “Israel
dikalahkan oleh Babel dan ditawan, serta tinggal di Babel selama 70 tahun.”
o
2 Taw. 36:21, “Kemudian
orang-orang Israel kembali dari Babel dan membangunkan Kaabah Allah.”
A.
Masa
Pembuangan Babilonia
Masa pembuangan yang terjadi kepada
bangsa Israel dan Yehuda sangat menarik untuk dibahas, karena dapat melihat
betapa besarnya Anugerah Allah. Karena sebagai bangsa pilihan Allah yang
mendapatkan hak istimewa dari Allah, mereka harus merasakan susahnya menjadi
bangsa buangan. Tidak hanya itu saja, pembuangan ini pun terjadi dalam beberapa
tahap dan oleh beberapa bangsa. Pertama oleh bangsa Asyur khususnya
Kerajaan Utara yaitu Israel. Kedua, oleh bangsa Babilonia terhadap kaum Yehuda
dan Israel.
Bangsa
Israel sebelum masuk dalam masa pembuangan. Mereka mempunya sifat yang tegar
tengkuk kepada Allah, mereka sujud menyembah kepada ilah-ilah lain
(2 Tawarikh 36:11-21). Israel tadinya adalah suatu kesatuan yang utuh tetapi
mereka menjadi terpecah karena kekerasan hati mereka (1Raja-raja 12:1-24),
sehingga Tuhan Allah menghukum mereka dengan memecahkan bangsa yang tadinya
utuh itu menjadi dua kerajaan. Yaitu, bagian Utara dan Selatan. Kerajaan Utara
ialah Israel dan Selatan ialah Yehuda. Yang pertama masuk dalam pembuangan
ialah Israel oleh bangsa Asyur tetapi seiring berjalannya waktu bangsa Asyur
ini dapat dikuasai oleh Babilonia adapun penyebab-penyebabnya yang pertama
adalah luasnya wilayah yang berhasil dikuasai oleh bangsa Asyur terlalu luas
sehingga Asyur tidak sanggup memegang semua wilayah, dan yang kedua adalah
adanya pemberontakan bangsa Babilonia yang tidak dapat dihadapi oleh bangsa
Asyur itu sendiri di sini kami bisa mengetahui bahwa Babilonia terlebih dahulu
dikuasai oleh Asyur.
B.
Keadaan
Yehuda dan Israel
Bangsa
yang sangat mempengaruhi penduduk Yehuda pada abad kedelapan dan ketujuh SM
adalah bangsa Babilonia hingga pada zaman selanjutnya keadaan yang terdesak
membuat bangsa Yehuda dan Israel harus di bawa dan di tawan dalam masa
pembuangan di Babel.[24]
Ada pun pembuangan yang dilakukan oleh Babel terjadi dalam tiga tahap yaitu:
1.
Tahapan Pertama
Karena
pada mulanya kerajaan Israel termasuk dalam wilayah kekuasaan Asyur tetapi
kemudian bangsa Asyur itu sendiri dikuasai oleh Babilonia pada tahun 612
S.M. Sehingga secara otomatis bangsa Israel atau Kerajaan Utara masuk
dalam jajahan Babilonia. Dan dibuang bersama bangsa Asyur. Dalam pembuangan
pertama ini Daniel bersama teman-temanya ikut dalam pembuangan.
2.
Tahapan Kedua
Pembuangan
tahap kedua ini terjadi pada tahun 597 S.M. (2 Raja-raja 24:10-17) dan termasuk
diantaranya adalah Raja Yoyakhin dan Yehezkiel. Dan lebih menarik lagi pada
tahap ini yaitu munculnya Yudaisme dimana ada sebagaian orang yang kembali
kepada Tuhan dan nabi Yehezkiel mendapatkan julukan sebagai “Bapa Yudaisme”. Pembuangan
yang kedua ini termasuk pembuangan yang sama kejamnya dengan pembuangan yang
pertama, dan meninggalkan akibat yang abadi bagi orang-orang Israel di
sepanjang masa sehubungan dengan dirusaknya Yerusalem dan Bait Allah pada waktu
itu.[25]
3.
Tahapan Ketiga
Pembuangan
tahap ketiga merupakan rombongan kedua dari Yehuda terjadi pada tahun 587
S.M. pembuangan ini ditandai dengan runtuhnya Yerusalem. Raja
Zedekia pun ikut dalam pembuangan pada tahap ketiga ini.
Seluruh
jumlah orang buangan rupanya tidak lebih dari 20.000 sampai 30.000 orang (2
Raja-raja 24:10-17). Tetapi karena orang yang dibuang ini terdiri dari lapisan
atas (pegawai, militer, imam, tukang besi) dan karena banyak orang yang sudah
tewas dalam perang sebelumnya, akibat pembuangan ini membawa dampak yang
sangat buruk bagi bangsa Yehuda. Pembuangan ini dimaksudkan untuk melumpuhkan
suatu bangsa, sehingga bangsa itu tidak dapat memberontak lagi.
Keadaan
Bangsa Yehuda agak mirip dengan sekelompok transmigran karena mereka memperoleh
kemudahan-kemudahan dari pemerintah Babilonia, hal ini terbukti dengan mereka
di perbolehkan mengatur hidupnya sendiri dan tidak diperlakukan sebagai
layaknya orang buangan. Tetapi ada juga orang-orang buangan yang dipenjarakan
dan ada juga yang dijadikan budak. Hal ini merupakan kebijakan dari raja Babel
yang hanya memilih orang-orang yang sekiranya dapat menguntungkan bangsanya.
Misalnya, dari orang-orang yang merupakan keturunan Raja, dan cendekiawan yang
nantinya mereka di suruh belajar bahasa orang Kasdim setelah itu mereka harus bekerja
untuk raja (Daniel 1:3-5). Mereka juga dengan cepat dapat beradaptasi dengan
lingkungan yang baru.
BAB
V
PENUTUP
Kesimpulan
Peradaban Babilonia berdiri dalam dua
periode dengan dua penguasa yang berbeda, periode peradaban Babilonia Kuno atau
lama diperintah oleh Hammurabi sedangkan peradaban Babilonia Baru diperintah
oleh Nebukadnezar. Kedua raja tersebut memeiliki kekuatan yang sangat besar
sehingga banyak yang bisa diunggulkan dari peradaban Babilonia ini, walalupun
akhirnya hancur oleh kerajaan lainnya. Babilonia baru pada masa Nebukadnezar
ini merupakan kota yang sangat indah yang dibangun dengan arsitektur yang
sangat megah, dan tidak ada sebelumnya dan juga belum tentu bisa ada yang
meniru setelahnya. Peninggalan pada masa Babilonia baru yang sangat terkenal
adalah adanya Taman Gantung yang dikatakan sebagai sebuah hadiah persembahan
kepada istri Nebukadnezar, juga adanya Ziggurat dan Menara Babel sebagai wujud
persembahan mereka terhadap Tuhan yang mereka percayai.
Babilonia memiliki dewa kuno yang
bernama dewa Marduk. Orang-orang Babilonia mempercayainya sebagai perwujudan
dari Dewa Matahari. Mereka menyebutnya “Bel”,
yang berarti “Tuhan” (bnd. Yes. 46:1;
Yer. 50:2). Masa kejayaan atau keemasan Babilonia ketika dipimpin oleh 2 orang
yang sangat berpengaruh bagi kekaisaran mereka, yang memerintah di dua zaman
atau periodisasi yang berbeda. kekaisaran Babilonia Kuno berjaya pada masa
pemerintahan Hammurabi. Dia melakukan reformasi besar-besaran bagi Babilonia
Kuno. Sebaliknya, kekaisaran Babilonia Baru berjaya pada masa pemerintahan
Nebukadnezar yang banyak memberikan kontribusi bagi Babilonia. Dia adalah
seorang raja yang sangat ulet dan cakap selama masa pemerintahannya.
Akan tetapi, raja-raja Babilonia setelah
Nebukadnezar justru sangat lemah. Kepemimpinan dalam kekaisaran yang luas itu
selalu berpindah tangan dengan cepat dari satu raja ke raja lain, bahkan
kadang-kadang pemindahan kekuasaan itu berlangsung secara kekerasan. Raja-raja
Babilonia sesudah Nebukadnezar kurang berhasil, dan akhirnya orang-orang
Babilonia menyerahkan kerajaan mereka kepada Koresy, raja bangsa Media, tanpa
perlawanan yang berarti.
Sekian. Tuhan memberkati!
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab.
Jakarta: LAI, 2007.
Douglas,
J. D, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,
Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995.
F.
Hinson, David, Sejarah Israel Pada Zaman
Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
Iryadi,
Achmad, Pengantar Sejarah Asia Barat Daya,
Bandung: UPI Press, 2008.
J.
Sumardianta, dkk, Sejarah – Untuk SMA/MA
Kelas X, Jakarta: Grasindo, “tt”.
Koentrajaningrat,
Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta:
Rineka Cipta, 2009.
Mudammad, Ardison, Babilonia:
Menyusuri Jejak Kota Yang Hilang, Surabaya: Penerbit Liris, 2010.
Soekanto,
Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
Toynbee, Arnold, Sejarah
Umat Manusia: Uraian Analistis, Kronologis, Naratif, & Komparatif,
Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2004.
Yenne, Bill, 100 Pria Pengukir
Sejarah Dunia, Jakarta: PT. Pustaka Delapratasa, 2002.
Sumber
Lain
Internet.
George Smith, Assyrian Discoveries, New York.
LAMPIRAN
PETA KEKAISARAN BABILONIA
|
Peta
1.
Kekaisaran Babilon Kuno ketika Hammurabi naik tahta pada 1792 SM (coklat tua)
dan setelah kematiannya pada 1750 SM (coklat muda).
|
|
Peta 3.
Kekaisaran Babilonia Baru
|
[1] Ardison
Mudammad, Babilonia: Menyusuri Jejak Kota
Yang Hilang (Surabaya: Penerbit Liris, 2010), 48.
[2] Arnold
Toynbee, Sejarah Umat Manusia: Uraian
Analistis, Kronologis, Naratif, Dan Komparatif (Yogyakarta: Pustaka
Belajar, 2004), 115.
[4] J. Sumardianta, dkk, Sejarah – Untuk SMA/MA Kelas X,
(Jakarta: Grasindo, “tt”), 101.
[22] Ardison
Mudammad, Babilonia: Menyusuri Jejak Kota
Yang Hilang (Surabaya: Penerbit Liris, 2010), 62.
[24] David F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), 185.
[25] Ibid, 193.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar