BAB I
PENDAHULUAN
Banyak
hal yang perlu dipelajari, bukan hanya sekedar teori dan ajaran-ajaran yang
memberikan konstribusi untuk menambah pengetahuan dan intelektual saja. Dan
semuanya itu memang perlu dipikirkan, akan tetapi perlu disadari juga bahwa hidup
kita tidak terlepas dari adanya konsep kepemimpinan. John Maxwell memiliki
sebuah pandangan bahwa kepemimpinan adalah manajemen diri dan gaya hidup. Jadi,
sadar atau tidak sebenarnya setiap orang memiliki potensi untuk memimpin. Pada
level yang sederhana setiap orang memiliki hak untuk memimpin dirinya sendiri.
Pada level selanjutnya seorang dapat memipin sebuah komunitas dan bahkan
sekelompok organisasi yang terstruktur dan terencana.
Dalam
bagian ini penulis mendeskripsikan suatu keadaan yang lebih mengacu kepada “Kepemimpinan
yang Melakukan Pemberdayaan.“
Sebagaimana
Allah memiliki kerinduan yang besar bagi dunia ini yaitu agar semua orang dapat
memperoleh keselamatan di dalam dan melalui Anak-Nya yaitu Yesus Kristus. Oleh
sebab itu, gereja harus memiliki sebuah tingkat pemahaman yang lebih terhadap
pentingnya peran gereja di dalam dunia ini. Allah telah memberikan otoritas
kepada Gereja-Nya untuk mengembangkan Kerajaan Allah di bumi ini.
Beberapa
saat sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Tuhan Yesus Kristus memberikan perintah
terakhir ini:
Yesus mendekati
mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di bumi dan di
sorga. Karen aitu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah
mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:18-20).
Ini merupakan suatu perintah yang
harus dikerjakan oleh gereja atau orang-orang percaya. Akan tetapi, ada banyak
orang Kristen yang tidak memahami dengan benar perintah ini. Ada banyak orang
Kristen merasa bahwa menggenapkan Amanat Agung hanyalah pekerjaan hamba-hamba
Tuhan yang telah Tuhan pilih dan percayakan. Ada banyak orang percaya yang tidak
mengetahui secara jelas tujuan hidupnya sebagai orang Kristen. Setiap hari
melakukan segala aktivitas dan kegiatan-kegiatan rutin hingga terkadang tidak
menyadari tujuan Allah terhadap dirinya, sehingga tidak sedikit dari mereka
mengalami kekosongan dan menjalani kehidupannya tanpa sebuah tujuan yang jelas.
Itulah sebabnya, pentingnya pemimpin-pemimpin rohani memiliki tugas dan
tanggung jawab yang besar untuk membawa mereka kepada sebuah konsep berpikir
dan gaya hidup yang benar bagi orang-orang percaya, terlebih bagi orang yang
tidak pernah mengetahui hidup Kekristenan.
Banyak orang bangun dari tempat
tidur setiap pagi dan bertanya apa yang dapat mereka lakukan untuk menunjukkan
dan mengatakan kepada orang-orang tentang Yesus, untuk membuat orang-orang
tersebut menjadi murid-murid Tuhan yang sejati dan mereka sendiri bertingkah
laku seperti murid-murid Tuhan yang sejati juga.
Karena
itu, sangat perlu diadakan sebuah pemberdayaan bagi gaya hidup dan pola pikir
mereka. Dengan demikian setiap orang yang telah diperlengkapi dapat
memaksimalkan hidupnya dan hidup sejalan dengan firman Tuhan, serta dapat
memberdayakan orang lain di sekitarnya.
BAB II
KEPEMIMPINAN
A.
Definisi
1.
Kepemimpinan
Secara Umum
Pemimpin
ialah seorang yang mengetahui tujuannya dengan jelas (dan mempunyai keyakinan
pribadi tentang tujuan itu), serta mampu mempengaruhi, menggerakkan dan
mengarahkan orang-orang lain untuk mencapai tujuan tersebut secara efektif.[1]
George Barna dalam bukunya Leaders on Leadership mengutip penjelasan Warren Bennis dan Burt
Nanus bahwa:
“Kepemimpinan
adalah melakukan segala sesuatu dengan benar.”
J.
Oswald Sanders
“Kepemimpinan
adalah pengaruh.”
Garry
Wills mengatakan, “kepemimpinan adalah
mengarahkan orang lain menuju tujuan yang diperjuangkan bersama oleh pemimpin
dan pengikut-pengikutnya.”[2]
Stogdill
mendefinisikan kepemimpinan sebagai “proses mempengaruhi aktivitas suatu
kelompok yang terorganisasi dallam usahanya dalam mencapai penetapan tujuan dan
pencapaian tujuan.[3]
2.
Kepemimpinan
Secara Alkitabiah
Dalam bukunya yang berjudul “Kepemimpinan Kristen Yang
Berhasil”, Charles R. Swindoll mengemukakan bahwa: “Kepemimpinan yang sejati
ditandai dengan adanya kerajinan dan ketekunan ditengah-tengah tugas yang di
percayakan kepadanya.”[4]
Poctafianus mengatakan
bahwa: “Pemimpin Kristen yang baik
adalah pemimpin yang dapat memperkaya kepribadian orang yang dipimpinnya.”[5]
Tuhan telah menyediakan bagi kita pemimpin-pemimpin tahun demi tahun untuk
berusaha membimbing umat-Nya maju secara rohani. Joyce Meyer mengatakan dalam
bukunya yang berjudul Pemimpin yang
Sedang Dibentuk bahwa: “Kunci kebahagiaan dan kepuasan bukan dengan
mengubah situasi dan kondisi kita, tetapi dengan mempercayakan Allah untuk
mengerjakan rencana-Nya yang baik dalam hidup kita sampai kita melihat
hasilnya.”[6]
B. Ciri
Kepemimpinan Rohani
Kepemimpinan
secara rohani adalah kepemimpinan yang bertumbuh dalam urapan Roh Kudus
(menangani kehidupan orang Kristen secara rohani). Pada dasarnya kita
dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin, baik memimpin orang-orang yang Allah
percayakan untuk dipimpin, juga menjadi seorang yang cakap memimpin diri
sendiri.
Gambaran
utama mengenai manusia dalam Alkitab menyangkut kepemimpinan. Allah
merencanakan kita untuk memimpin, untuk memiliki otoritas dan untuk berkuasa.
“Berfirmanlah
Allah : ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya
mereka berkuasa atas burung-burung diudara dan atas ternak, dan atas seluruh
bumi dan atas segala binatang melata yang merayap dibumi.’ (Kej.1:26).
Dalam nats ini ada
tiga hal utama yang harus di ketahui bahwa kita dilahirkan untuk menjadi
seorang pemimpin. Pertama, diciptakan menurut rupa Allah berarti diciptakan
untuk memimpin. Kedua, Allah memberikan kepada manusia otoritas atas seluruh
bumi. Untuk memperoleh otoritas ini seorang pemimpin harus memiliki sikap tunduk
dibawah otoritas Allah, barulah otoritas kepemimpinan itu diberikan kepadanya.
Ketiga, Tuhan memberikan perintah untuk menguasai, kita harus memiliki
kesanggupan untuk hal itu. Allah tidak pernah memerintahkan seseorang untuk
melakukan sesuatu tanpa memberikan kesanggupan kepadanya untuk melakukannya.
Berdasarkan karunia dan kepribadian, seseorang memiliki kesanggupan untuk
memimpin di suatu bagian tertentu.
·
Panggilan
Ketika
mempelajari Alkitab secara teliti, kita akan melihat bahwa kepemimpinan memang
benar-benar merupakan gagasan Allah. Allah bukan hanya sekedar pemimpin yang
inti atau yang utama, tetapi Allah memanggil kita untuk memimpin.
Panggilan
adalah hal yang sangat penting bagi seorang pemimpin yang dipercayakan Allah.
Dalam hal ini pemimpin tidak memilih dirinya sendiri untuk menjadi seorang
pemimpin yang dipercayakan Allah, tetapi Allah sendiri yang memilihnya.
Joyce Meyer
mengatakan bahwa: “Apapun yang menjadi panggilan anda, lakukan yang terbaik.
Lakukanlah secara optimal.”[7]
·
Integritas
Integritas
adalah ciri khas orang yang dipanggil Allah untuk menjadi perpanjangan tangan
Allah. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, kata Integrity dalam Alkitab diterjemahkan sebagai Kejujuran. Artinya,
menjaga diri dan waspada dari segala kebohongan dan kemunafikan. Dalam hal ini,
seorang pemimpin harus menjaga dirinya sendiri dalam arti seorang pemimpin
tidak mata duitan; hidup dalam pengorbanan (Kisah Para Rasul 20:33). Ia seorang yang
selalu giat dan tekun dalam melaksanakan pelayanannya (Kisah Para Rasul 20:26).
Kita tidak dapat mengukur kerohanian orang lain, tetapi dapat mengukur
kerohanian dirinya sendiri. Poctafianus dalam bukunya Manajemen Dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah mengatakan: “Seorang
pemimpin rohani harus menyadari keadaan rohaninya sendiri.”[8]
Dengan
demikian kita dapat menolong orang lain dan dapat berbicara kepada orang lain
dengan tidak berlebihan dan tidak merendahkan diri. Yang dimaksudkan adalah
adanya kehidupan yang terbuka dengan orang lain. Terbuka bukan berarti
kompromi. Sebab kompromi akan mengakibatkan terjadinya kegagalan dalam mencapai
tujuan. Dengan demikian segala sesuatu dalam diri seorang pemimpin rohani
diukur dari segi rohaninya sendiri. Ketika seorang pemimpin rohani gagal dalam hal
kerohanian, maka akan lebih baik jika ia mengakui kegagalannya itu. “Pengakuan
yang jujur menolong orang lain mengerti bahwa seorang pemimpin bukanlah seorang
Superman.”[9]
Poctafianus
juga menceritakan bagaimana dalam hidupnya sebagai seorang pelayan Tuhan pernah
menyadari bahwa dirinya secara tidak langsung telah mencuri kemuliaan Allah.
Saat dimana hidup pelayanannya tidak memiliki integritas yang benar dihadapan
Allah. Kemudian disuatu malam Allah berbicara didalam dirinya dan menyuruhnya
untuk mengakuinya dihadapan orang-orang Jerman dan Perancis pada suatu malam,
bahwa ia telah melakukan kesalahan dihadapan Allah. Ia mengatakan bahwa ketika
setelah dirinya mengakui kesalahan itu, Allah tidak membuat wibawanya hilang.
Justru setelah pengakuannya yang jujur itu ia dapat berkotbah dengan urapan
Allah.[10]
Kejujuran
adalah satu hal terpenting yang benar-benar harus dimiliki oleh seorang
pemimpin. Akibat dari sikap kejujuran ini adalah adanya sebuah kepercayaan yang
ditaruh oleh para pengikutnya sehingga kepemimpinan itu dapat terus berkembang
dan menghasilkan generasi kepemimpinan baru yang sehat. Seorang pemimpin rohani
dihormati karena wibawanya. Banyak orang Kristen menghormati seorang pemimpin
rohaninya karena ia menganggap hal itu adalah penting. Bahkan ada banyak gereja
yang sampai hari ini secara tidak langsung, sadar atau tidak disadari telah
mengkultuskan seorang pemimpin rohani melebihi Allah mereka sendiri.
Hal
ini cukup beralasan, karena hal demikian sudah menjadi hal yang lumrah. Akan
tetapi perlu disadari juga bahwa hal ini adalah sebuah fenomena yang sebenarnya
tidak alkitabiah. Kepemimpinan seorang manusia tidaklah untuk hal demikian,
sebab esensi dari kepemimpinan itu sendiri adalah menjadikan orang-orang yang
dipimpinnya menjadi serupa dengan Kristus. Kemungkinan atas dasar pengurapan
Allah yang mengalir atas diri seorang pemimpin maka ada banyak orang Kristen mengagungkan
seorang pemimpin melebihi esensi dari pengurapan itu sendiri. Sebab pengurapan
itu sendiri merupakan akibat dari integritas yang dimiliki seorang pemimpin
sehingga membuat wibawa seorang pemimpin muncul kepermukaan.
Integritas
sangat memiliki peran yang sangat penting bagi seorang pemimpin. Sebab dengan
integritas seorang pemimpin dihormati. Integritas akan membuat seorang pemimpin
tetap berada pada posisi yang sebenarnya, segala sesuatu yang dikerjakan oleh
seorang pemimpin yang di landasi integritas yang benar akan membuahkan hasil
yang optimal. Dalam buku yang di tulisnya, Poctafianus mengatakan bahwa: “Kejujuran
rohani menimbulkan kepemimpinan yang berwibawa didalam pengurapan Allah.”[11]
Oleh sebab itu perlu
di sadari bahwa integritas seorang pemimpin sangat perlu untuk terus
dikembangkan, sehingga kepemimpinan yang sedang dikembangkan itu dapat berjalan
dengan maksimal dan membawa tim yang di pimpinnya itu kepada sebuah tujuan yang
telah diciptakan didalam program kerja yang telah di tentukan.
·
Visi
Visi
adalah pemicu ketangguhan orang yang dipanggil Allah untuk suatu tugas khusus.
Seorang pemimpin yang dipercayakan Allah untuk memimpin harus mempunyai visi yang
dari Allah. Tidak hanya memiliki visi saja, tetapi mampu mengkomunikasikan visi
tersebut kepada orang lain yang dipimpinnya (Kisah Para Rasul 19:10). Jerry C.
Wofford mengutip pernyataan Gulliver’s Travels, bahwa : “Visi adalah seni
melihat hal-hal yang tak kasat mata.”[12]
Suatu visi memproyeksikan suatu kondisi di masa yang akan datang.
Ketika seorang
pemimpin mendapatkan visi dari Allah, ia akan mengkomunikasikannya kepada
orang-orang yang dipimpinnya, sehingga dapat dicapai secara bersama-sama. Perlu
diingat, bahwa visi yang disampaikan seringkali mendapat tanggapan yang
berbeda-beda oleh setiap anggota. Sebagian akan memahaminya dan memegangnya
erat-erat secara cepat, sedangkan yang lainnya perlu mendengarnya beberapa
kali.
·
Tanggung Jawab
Sikap
yang tidak kalah pentingnya dalam kepemimpinan yang memberdayakan orang yang di pimpinya adalah pemimpin yang
bertanggung jawab. Sikap tanggung jawab diungkapkan melalui bagaimana ia dapat
dengan tepat melakukan apa yang di katakannya. Baik itu dilakukan melelui
tindakan ataupun dengan perkataan yang berkualitas untuk membangun orang yang
di pimpinnya.
Penulis megutip
sebuah perumpamaan yang pernah dikemukakan Yesus dihadapan murid-murid-Nya:
“Sebab
hal Kerajan Sorga sama seperti seorang yang mau berpergian ke luar negeri, yang
memanggil hamba – hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang
seorang diberinya lima talenta, yang seorang lagi dua, yang seorang lain lagi
satu, masing – masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. (Matius 25 :
14 – 15 ).
Dalam bagian ini kita semua
memiliki talenta dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Kita semua tidak
bisa melakukan sesuatu hal yang sama, tetapi kita bisa menjadi apa yang telah
menjadi panggilan Allah dalam diri kita masing-masing.
Ketika
Allah memberikan pemimpin-pemimpin (orang – orang yang ada bersama Musa – para
tua – tua Israel ) kepada Musa untuk
membantu dia dalam tugas – tugas mengatur kaum Israel,ada pemimpin yang
ditenyukan untuk memimpin ribuan orang. Ada yang ditentukan memimpin ratusan,
ada yang lima puluh dan ada yang sepuluh (Kel.18 : 21). Mereka melakukan hal in
menurut kesanggupannya. Ketika seorang pemimpin Kristen telah dipercayakan
bagian bagian demi bagian dalam sebuah program gerejawi, maka hendaknyalah
dirinya dapat mempertanggungjawabkan setiap tugas yang telah didelegasikan
kepadanya. Kata kunci dalam nats diatas adalah “masing-masing menurut
kesanggupannya”. Jadi, seberapa banyak kepercayaan yang Allah taruh dalam diri
seseorang, ketika didalam hatinya ia berkata sanggup, maka tidak seharusnya jika dikemudian hari
didapati pekerjaanya itu tidak dengan baik diselesaikan.
Ketika
kita mempelajari teks dalam perumpamaan yang diutarakan Yesuus mengenai
talenta, kita dapat menyimpulkan bahwa ada orang yang dalam tangung jawabnya
sebagai seorang Kristen dapat mempergunakan talentanya secar optimal tetapi ada
juga orang-orang yang sebenarnya mampu untuk mengembangkan talentanya akan
tetapi ia lebih memilih untuk tidak mempergunakannya untuk melayani orang lain
sebagai bukti bahwa ia mengasihi Allah. Akan lebih baik jika seorang Kristen
mengetahui potensi di dalam dirinya, mengembangkannya dan berguna baik bagi
dirinya maupun orang-orang yang ada disekitarnya. Inilah yang menjadi tanggung
jawab seorang pemimpin, bahwa ia harus jeli dalam melihat potensi dalam diri
setiap orang yang dipimpinnya. Mungkin ada orang yang buruk secara karakter
tetapi memiliki potensi yang baik untuk mengembangkan sebuah kegerakan yang
baru, seorang pemimpin harus mengambil sebuah tindakan guna memikirkan cara
yang terbaik untuk membentuk dan memperbarui karakternya sehingga dapat
menyeimbangkan karakter dan talenta-talenta yang dimilikinya.
C.
Prinsip Kepemimpinan
Kristen
·
Seorang
pemimpin seharusnya menjalani kehidupan yang patut dicontoh, baik bagi orang
Kristen maupun non-Kristen.
·
Seorang
pemimpin harus bersih dalam hal moral, menjaga kebenaran menurut standar Allah.
·
Seorang
pemimpin harus hidup dengan penuh iman, menunjukkan harapan dan mewujudkan
kasih sejati yang Alkitabiah
dalam setiap hubungan.
·
Seorang
pemimpin harus menjalani kehidupan yang tertib, sehingga injil menjadi menarik
bagi orang-orang yang belum percaya.
·
Seorang
pemimpin harus dapat mengontrol dan menguasai dirinya dalam segala keadaan.
D.
Memberikan
Pengaruh
Kepemimpinan adalah pengaruh. Setiap pemimpin pasti memiliki
dua karakteristik ini; ia sedang menuju suatu tempat; dan ia mampu membujuk
orang lain untuk pergi bersamanya. Pengaruh
harus diukur untuk menentukan kualitasnya. Apakah pemimpin tersebut memiliki
pengikut karena posisinya? Artinya ia menggunakan kekuatan dari jabatan yang di
sandangnya, atau ia banyak diikuti karana keberadaannya? Artinya bahwa ia
melebihi organisasi itu dan telah mengembangkan orang orang yang mengikutinya
itu dengan sekala kelas dunia.
Kualitas dari seorang pemimpin diukur dari kualitas yang
dimiliki para pengikutnya. Sebab kualitas seorang pengikut mencerminkan
kualitas pemimpinnya pula.
Pada dasarnya setiap hari kita dapat menjumpai adanya
praktik-praktik kepemimpinan disekitar kita. Baik di dalam organisasi dimana
kita menjadi bagian di dalamnya, di dalam pemerintahan suatu negara, bahkan
dilingkungan masyarakat dimana kita tinggal, praktik-praktik kepemimpinan
selalu menjadi bagian dari sebuah metode dimana pencapaian sebuah tujuan dapat
diraih didalamnya. Permasalahannya adalah bagaimana seorang pemimpin mampu
memberikan dampak atau pengaruh bagi kepemimpinannya. Melalui pengaruh-pengaruh
itu akan dapat dilihat kualitas serta keberhasilan yang di capai dalam
kepemimpinan tersebut.
Sejak awal, Yosua
telah berusaha melakukan hal yang benar. Ia telah berusaha memimpin bangsa
Israel ke arah yang harus mereka tuju. Generasi pertama telah melewatkan
peluang dan kesempatan mereka untuk taat kepada Allah sehingga tidak berhasil.
Yosua bukan saja benar, akan tetapi ia berusaha meneladani kehidupan yang
benar. Sehingga generasi berikutnya tidak melakukan kegagalan seperti yang
pernah dilakukan oleh generasi pertama. Apa yang telah dicapai oleh Yosua,
merupakan hasil dari sikap Yosua yang benar. Ia berusaha memiliki hidup menurut
pola hidup Musa. Yosua telah terbentuk dari sejak awal dimana Musa memilih dia
sebagai seorang yang berkualitas.
1.
Karakter
Yosua merupakan contoh seorang pemimpin yang memiliki
karakter hidup yang baik. Ia membangun dirinya atas dasar sikap yang benar. Ia
memiliki ketergantungan kepada Allah. Alkitab menerangkan ketika Musa kembali
ke perkemahan setelah bersaat teduh kepada Alllah, “Yosua bin Nun, seorang yang
masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu” (Kel. 33:11). Ia tidak bergantung
kepada pembimbingnya, tetapi ia bergantung kepada Allah. Ia mengembangkan ketergantungannya
terhadap Allah.
Faktor utama lainnya mengapa pengaruh Yosua bertumbuh sedemikian
besar adalah dampak Musa terhadap kehidupannya. Ia digambarkan sebagai seorang
abdi Musa (Bil. 11: 28). Kemana pun Musa pergi, Yosua mengikutinya, entah ke gunung
Sinai atau menjumpai Allah di kemah Tabernakel. Sampai pada suatu saat ketika
Musa sudah lanjut usia, dan mendelegasikan tugas kepemimpinannya kapada Yosua,
ia memiliki sikap yang benar. Itulah sebabnya setelah Musa meninggal, tidak
seorangpun mempertanyakan kepemimpinan Yosua. Artinya, bahwa kepemimpinannya
dilandasi atas dasar karakter hidupnya yang baik. John Maxwell mengutip
pernyataan Tozer yang berbunyi: “Allah mencari orang-orang melalui siapa ia
dapat melakukan yang mustahil – alangkah malangnya bahwa kita hanya berencana
melakukan hal-hal yang dapat kita lakukan sendiri.”[13]
Karakter berkembang dengan sendirinya melalui gaya hidup
seseorang. Ketika seseorang memilih untuk bersikap lebih lembut, maka gaya
hidup seperti demikianlah yang akan mendominasi kehidupannya, dan hal itu akan
berubah manjadi sebuah karakter bagi orang tersebut.
Seorang pemimpin
seperti Musa dapat menularkan karakter hidupnya kepada Yosua. Demikian juga
dengan kepemimpinan Kristus, keteladanan hidup-Nya mampu menembus batas waktu
dan zaman yang berbeda. Karakter seperti inilah yang mampu memberikan pengaruh dan
dampak bagi para pemimpin-pemimpin baru.
2.
Inteligensi dan Wawasan
Kepemimpinan membutuhkan banyak pengetahuan dan latihan kedisiplinan.[14]
Karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin
adalah adanya sifat yang berhubungan dengan intelegensia termasuk pengetahuan,
ketegasan, dan kelancaran berbicara.[15]
Pengetahuan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan tertentu
merupakan suatu faktor penting dalam keefektifan seorang pemimpin. Wawasan yang
luas juga menjadi faktor pendukung yang menonjol bagi seorang pemimpin. Kata
wawasan (pandangan) diterjemahkan dari kata Ibrani yang arti dan pengertian
sebenarnya adalah “menjadi hati-hati, bijaksana”, yaitu menjadi berhikmat dan
bijaksana serta memiliki pengaruh ke depan.[16]
Itu berkaitan erat dengan kebijaksanaan dalam pengelolaan
kehidupan sehari-hari. Seorang pemimpin harus mampu melihat gambaran yang benar
untuk menangani pembangunan ataupun tanggung jawab apapun pada hari esok ,
dapat mengetengahkan gambaran secara jelas mengenai suatu perencanaan. Tidak seorang pun secara mendadak menjadi
seorang yang berhikmat dan memiliki wawasan yang luas. Diperlukan atau dibutuhkan
waktu yang cukup lama untuk memperolehnya. Lagi pula dengan cara demikian saja
tidaklah menjadi jaminan bagi seseorang secara serta merta memperoleh
kebijaksanaan dan wawasan yang luas tersebut. Perlu sebuah proses yang disebut
dengan belajar. Untuk dapat belajar dengan baik seseorang harus memiliki konsep
berpikir yang baik. Sebab jika seseorang tidak menyadari kegunaan yang
dipelajarinya, akan menjadi sia-sialah pembelajarannya itu. Untuk apalah
seseorang belajar jikalau ia tidak menyadari kegunaannya dari belajar itu.
BAB III
KEPEMIMPINAN
YANG MELAKUKAN PEMBERDAYAAN
Tugas seorang
pemimpin rohani tidak hanya mewariskan pengetahuannya, melainkan mewariskan
seluruh kehidupannya, kepribadiannya, dan keteladannya. Itulah sebabnya Rasul
Paulus dalam Filipi 4:9 berkata : “dan apa yang telah kamu pelajari dan telah
kamu terima dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat kepadaku,
lakukanlah itu.” Hal ini benar
menunjukkan betapa dalamnya, betapa tingginya ualitas kepribadian seorang
pemimpin.
A.
Hukum
Pemberdayaan
Dalam bukunya yang berjudul The 21 Most Powerful
Minutes in a Leader’s Day mengatakan bahwa: “Kegembiraan seorang pemimpin adalah
ketika ia melihat orang lain sukses. Akan tetapi ada yang lebih baik dari itu,
yakni turut ambil bagian dalam sukses orang lain."[17]
Hal ini berbicara
mengenai bagai mana seorang pemimpin melakukan sesuatu yang mengandung makna
bahwa pemimpin tidak hanya berkata – kata saja, tetapi turut campur dan
berkarya bersama orang yang dipimpinnya. Ia turut memberikan konstribusi bagi
orang yang dpimpinnya itu. Di dalamnya ia sedang mengerjakan sesuatu yang tidak
terlihat sebagai sesuatu yang ditonjolkan. Olehnya secara tidak langsung akan
mengembangkan potensi para pengikutnya, menunjukkan ketegasan seorang pemimpin
untuk memberdayakan orang yang dipimpinnya.
1.
Pengembangan Potensi
Hanya seorang yang diberdayakannlah yang dapat mencapai
potensinya[18].
Ada banyak pemimpin yang beranggapan bahwa yang terpenting adalah kemajuan
organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana sebuah organisasi dapat bertahan
ditengah kesukaran yang melanda situasi dan zaman. Perlu diketahui bahwa
semuanya itu tidak akan pernah terwujud
ketika bagian utama yaitu anggota-anggota dari organisasi tersebut tidak diberdayakan.
Tidak ditingkatkan kualitas dan kinerjanya. Dengan kata lain seorang pemimin
yang tidak memberdayakan orang-orang yang dipimpinnya adalah pemimpin yang
menghambat potensi yang sebenarnya dimiliki oleh para pengikutnya serta
mengaburkan tujuan hidup mereka.
John Maxwell katakan : “Jika hal ini didiamkan cukup lama,
maka orang-orang akan menyerah, atau mereka akan pindah ke organisasi lain
dimana mereka dapat memaksimalkan potensi mereka.”[19]
Yang sangat perlu di ketahui oleh para pemimpin terhadap
para bawahannya adalah bahwa ada banyak orang yang tidak menyadari seberapa
besar potensi yang ada didalam dirinya. Bahkan mungkin juga ada banyak
orang-orang yang selama ini bersama-sama dengan seorang pemimpin, tetapi
dirinya tidak tahu bahwa dirinya sedang di ajar untuk mengembangkan potensi
yang ada di dalam dirinya itu.
Ketika para murid mulai meragukan Yesus, mereka memiliki
sebuah sikap yang salah terhadap Yesus. Mereka tidak mampu mengatasi persoalan
mereka sendirian tanpa Yesus ada bersama mereka. Bagi banyak orang Kristen,
kebanyakan dari mereka percaya kepada Yesus, tetapi dalam praktik kehidupan banyak dari mereka juga
tidak membiarkan Yesus berkarya didalam kehidupannya itu. Atau setidaknya
memberikan kesempatan bagi Dia untuk mengambil alih jalan hidupnya.
Masih teringat secara jelas ketika kita mempelajari Alkitab,
ketika Yesus dan para murid menyeberangi danau galilea, ketika itu angin besar
melanda kapal mereka dan seolah-olah kapal mereka tenggelam karena ombak dan
angin yang besar itu. Kita dapat jumpai dalam sebuah kalimat dimana dalam
situasi seperti itu mereka masih saja sempat membiarkan atau yang lebih tepat
penulis katakan “mereka sejenak
melupakan Yesus”, yang sedang tertidur di buritan. Ini menunjukkan sebuah sikap
yang keliru. Mereka berjuang sekuat tenaga, daya, pikiran dan pengalaman mereka
untuk melawan derasnya air dan kencangnya angin yang melanda perahu mereka. (Mat.
8: 23-27; Mrk. 4:35-41; Luk. 8:22-25).
Demikian kehidupan rohani setiap orang Kristen ketika
persoalan datang banyak orang sibuk menghadapinya sendirian, ia menganggap
bahwa ia bisa, tetapi ketika masalah semakin memuncak dan bahkan mungkin
kematian mengancam kehidupan mereka barulah sadar bahwa ada Yesus bersama
mereka. Yesus menegur merek dengan keras : “Dimanakah kepercayaanmu”( Luk. 8:
25.) dari pernyataan Yesus ini dapat kita pahami lebih lanjut bahwa sebenarnya
mereka memiliki potensi yang besar didalam sikap percaya mereka. Akan tetapi
mereka sama sekali tidak tahu apa yang mereka harus lakukan. Pengalaman Petrus
sebagai seorang nelayan (Luk. 5:1-11) pun tidaklah cukup untuk meneduhkan
besarnya gelombang air yang sedemiian hebat. Dibutuhkan sesuatu yang lebih dari
sekedar pengalaman dan tenaga manusia untuk bisa mengalahkan badai-badai dalam
kehidupan seseorang.
Peran seorang
pemimpin adalah mengembankan potensi-potensi dalam diri orang-orang yang dipimpinnya.
Ia harus secara intensif menegaskan keadaan ini dalam dirinya. Sementara Yesus
berada di buritan, Ia sedang memberikan kesempatan kepada para murid-Nya untuk
mempraktekkan segala sesuatu yang pernah Ia ajarkan kepada mereka. Dari sikap
yang di alami murid-murid-Nya, jelas dapat di ketahui bahwa mereka belum
memahami maksud Allah dalam diri mereka.
2.
Memberdayakan Orang-Orang yang Dipimpin
Alkitab mencatat bahwa sepanjang pelayanan yang di kerjakan
Yesus dalam menyelesaikan rencana Bapa bagi keselamatan manusia, Yesus
menyusuri banyak situasi. Ia harus pergi ke tepi danau Tiberias dan menemukan
Petrus disana. Ia harus bertemu dengan seorang Matius si pemungut cukai, yang
menurut kebiasaan orang saat itu kurang begitu di terima oleh beberapa
kalangan. Yesus juga harus bertemu dengan orang-orang Zelot seperti Simon,
harus berhadapan dengan Filipus seorang yang cukup kritis dan dan juga seorang
yang meragukan Yesus sebagai Mesias karena Ia berasal dari Nazaret dan lain
sebagainya. Sampai Ia harus disalib dan ditinggalkan orang-orang terdekatnya.
Dalam keadaan seperti ini Yesus tidaklah mempedulikan latar
belakang mereka, pendidikan dan kehidupan sosial mereka. Yesus berfokus pada
potensi dan menurut saya Yesus tahu dengan benar bahwa orang-orang semacam
mereka (para murid) memiliki kualitas hanya saja mereka belum memahami secara
jelas. Sokrates pernah mengatakan bahwa orang yang tidak mengetahui bahwa
dirinya tidak tahu apa-apa adalah orang bodoh, jauhilah dia. Tetapi orang yang
mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui apa-apa adalah orang yang bijaksana,
ikutilah dia. Dengan kata lain harus ada stimulus yang merangsang mereka
sehingga mereka tahu dengan pasti potensi diri mereka. Yesus melakukan itu bagi
mereka. Keteladanan dari seorang Palus sebagai seorang pemimpin yang memiliki
pola berpikir yang cukup cakap dalam memimpn orang-orang yang selama ini
menjadi tanggungjawab untuk dibina lebih baik. Paulus katakan bahwa: “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi
pengikut Kristus”. Dari peryataan ini terlihat jelas bahwa Paulus adalah
contoh sejati pemimpin yang menyerupai Kristus.[20]
Hasil dari
pemberdayaan yang Yesus lakukan tampak nyata ketika para murid mendapat
peneguhan Roh Kudus dan mereka melakuan
segala sesuatu yang telah di ajarkan Yesus kepada mereka. Tidak berhenti hanya
di situ saja, tetapi kemudian terus bergulir hingga sampai hari ini.
Keteladanan Yesus telah membangkitkan regenerasi pemimpin yang menghasilkan
pemimpin-pemimpin Kristen baru yang lainnya.
3.
Ketegasan Seorang Pemimpin yang Memberdayakan.
Tidak seorang pemimpin pun yang bisa melakukan segalanya
sendirian untuk mempertahankan visi dan misi dalam organisasinya. Ia sudah
pasti selalu membutuhkan anggota yang kompeten untuk meraih sukses. Sudah
seharusnya kebesaran seorang pemimpin diukur dari berapa banyak pemimpin yang
dihasilkannya, bukan sekadar berapa banyak pengikut yang dihasilkannya.
Jika kita akan menjadi pemimpin yang efektif maka kita harus
memahami arti sebenarnya dari kerendahan hati. Alkitab mencatat bahwa Yesus,
Allah yang menjelma menjadi manusia mengatakan kalimat ini; “Pikullah kuk yang
Kupasang dan belajarlah kepada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan
jiwamu akan mendapat ketenangan (Mat.11:29).
Dalam bukunya, John C. Maxwell mengutip perkataan Andew
Carnegie: “Akan menandai sebuah langkah yang besar dalam perkembangan Anda
ketika Anda menyadari bahwa orang lain dapat membantu Anda melakukan perkerjaan
yang lebih baik daripada yang dapat anda lakukan sendirian.”[21]
Untuk melakukan sesuatu yang benar-benar besar, lepaskan ego Anda, dan bersiaplah
menjadi bagian sebuah tim.[22]
Kita sering melihat diantara kalangan orang Kristen kita
mengeluh tentang kekurangan seorang pemimpin tetapi kita enggan memberikan
teladan dan kemudian melatih orang-orang untuk melakukan hal yang kita lakukan.
Alasan utama adalah karena kita kurang mengerti arti sebenarnya dari teladan
kerendahan hati dan teladan supaya orang lain mengikutinya. Jika kita ingin
memiliki kepemimpinan yang kuat, maka sudah seharusnya setiap pemimpin
memberdayakan orang-orang yang dipimpinnya.
Jangan pernah takut melihat potensi dan mengembangkan
potensi orang-orang yang kita pimpin, sekalipun orang yang kita pimpin memiliki
potensi yang lebih besar daripada yang kita miliki. Justru dengan
mengembangkannya maka kita akan menghasilkan banyak pemimpin sehingga misi yang
ada bisa segera terpenuhi. John Maxwell adalah seorang seorang yang cukup
handal dalam hal mengembangkan kepemimpinan. John Maxwell memiliki filosofi
menciptakan 1000 pemimpin.
Stewart Dinnen
juga menjelaskan bahwa kritik itu
sehat. Kritik adalah suatu katup pengaman bagi persekutuan dan membantu
memastikan jalurnya bersih diantara kita. Jadi jangan sampai menutup katup
kritik ini. Seharusnya kritik dapat dijadikan alat evaluasi guna mendapatkan
nilai usaha dan kinerja yang baik.[23]
Seringkali yang menjadi masalah adalah seorang pemimpin
takut akan kemungkinan akan apa yang diucapkan dan dipikirkan oleh orang lain.
Artinya kita lebih memilih untuk takut dikecam oleh orang lain sehingga kita
melalaikan Allah. Sama artinya kita lebih memilih menyenangkan hati manusia
daripada Allah, hal ini akan berakibat bahwa kita tidak akan pernah menjadi
seorang pemimpin yang berhasil.
Seorang pemimpin yang baik sebaiknya tidak takut untuk
berbuat salah. Sebab hal ini berakibat kita akan “memendam” diri dan tidak
belajar menjadi seorang teladan. Konsep yang kita pelajari dalam Perjanjian
Lama bahwa semakin besar sebuah besar, maka akan semakin banyak jarahan yang
akan didapat. Satu hal yang harus kita pahami bahwa “perintang besar
menghasilkan pemimpin yang kuat’.
Beberapa hal penting yang perlu juga diperhatikan guna
mengembangkan sikap seorang pemimpin yang memberdayakan adalah mempedulikan
nasib orang lain. Harus ada sebuah keyakinan yang kuat guna mempertahankan
segala sesuau yang telah dibangun bagi orang-orang yang dipimpinnya. Myron Rus
mengatakan: “Keyakinan yang kuat sangat dibutuhkan untuk mendorong seseorang
dalam melakukan tindakan”.[24]
Sebagai seorang pemimpin yang melayani, Tuhan memberikan
karakteristik-Nya dalam melayani orang lain atau orang yang kita pimpin, yang
tertuang di Lukas 22:27: "Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk
makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di
tengah-tengah kamu sebagai pelayan." Dari ayat tersebut kita dapatkan
beberapa prinsip bagaimana seseorang pemimpin yang melayani dapat memberdayakan
orang yang dipimpin.
Pertama, kita haruslah menghargai orang yang kita pimpin.
Dikatakan bahwa orang yang duduk makan "lebih besar" daripada yang
melayani. Sering kali pemimpin tidak bisa memberdayakan karena dia merasa bahwa
posisinya lebih tinggi sehingga lebih menuntut untuk dihargai daripada
menghargai. Syarat pertama untuk pemimpin dapat memberdayakan orang di bawahnya
adalah menghargainya: menghargai potensi orang yang dipimpin, menghargai bahwa
dia adalah calon pemimpin masa depan, menghargai bahwa dia adalah orang yang
dipercayakan Tuhan untuk kita pimpin untuk memaksimalkan potensinya.
Kedua, tentunya sikap melayani seperti yang dilakukan oleh
Tuhan Yesus sendiri. Untuk memberdayakan orang lain, maka kita harus berfokus
untuk melayani orang tersebut.
Kita
melayaninya dengan cara mengenalnya setiap potensi yang dia miliki sebaik mungkin,
kemudian berikan dia mimpi, dorongan, dan kesempatan untuk maju dan berkembang.
Layani sampai dia mencapai potensinya yang maksimal, hingga dia mengalami
kepuasan karena pelayanan yang kita berikan.
Memutuskan bahwa
orang-orang yang berada dalam tim itu layak untuk diperlengkapi dan
dikembangkan terkait mengenai potensi yang dimiliki oleh mereka. Hal ini
berkaitan dengan bagaimana seorang pemipin mampu memberikan motivasi
orang-orang yang dipimpinnya itu dalam meraih sebuah tujuan. Sebuah impian,
visi yang jelas dari diri seorang pemimpin. Dengan demikian para pengikutnya
akan menyadari serta mengerti bahwa yang disampaikannya itu memang memiliki
nilai yang tinggi, sehingga mereka memiliki nilai etos kerja yang tinggi kepada
pemimpin dan kepada organisasi.
B.
Rencana
dan Strategi
Dalam setiap keadaan sukar selalu memiliki potensi untuk
menghancurkan segala sesuatu yang telah dibangun. John Maxwell mengutip
perkataan Winston Churchill, seorang mantan Perdana Mentri Inggris, beliau
mengatakan, “pada setiap orang ada sebuah momen istimewa didalam hidup mereka
ketika mereka secara kiasan ditepuk pada bahu dan ditawari peluang untuk
mengerjakan sesuatu yang sangat istimewa, unik bagi mereka dan cocok dengan
bakat mereka. Sangat disayangkan jika kita berkata tidak siap dan tidak
memenuhi akan hal itu, yang sebenarnya dapat menjadi saat terbaik bagi kita” [25].
Perlu diketahui bahwa kita dapat menghancurkan apa yang telah kita bangun
dengan sikap kita yang tidak peduli dengan kesempatan terbaik yang ada
disekitar kita. Caranya adalah dengan melakukan hal-hal sederhana yang saat ini
ada dihadapan kita, setelah itu barulah kita akan siap menghadapi
kesukaran-kesukaran dan bahkan kesempatan atau peluang yang lebih besar.
Penulis membenarkan
ungkapan John Maxwell yang mengatakan: “Gagal untuk merencanakan adalah sebuah
rencana untuk gagal.”[26]
Kunci dari rencana yang besar adalah fokus. Allah telah menunjukkan seorang pribadi
dalam Alkitab yang cukup cakap dalam menangkap pola pikir dan rencana-Nya.
“Berikan sekarang
kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai
pemimpin bansa ini. Sebab, siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar
ini? (II Tawarikh 1 : 10).
Salomo tidak meminta kekayaan atau ketenaran untuk dirinya
sendiri, tetapi lebih memilih hikmatt agar dia dapat memimpin umat Allah.
Salomo adalah salah seorang yang mendemonstrasikan kunci dari kepemimpinan. Ia
mengetahui arah dan tujuan kepemimpinannya sebelum ia meminta kepada orang lain
untuk mengikuti rencana dan tujuannya. Tuhan memberikan sebuah misi yang
memerlukan rencana dari orang yang memimpinnya.
Apa yang dikerjakan Salomo dalam pembangunan Bait Allah
adalah bagian dari sebuah perencanaan yang telah di atur oleh seorang pribadi
yang bernama Daud, ayah Salomo sendiri. Rencana jangka panjang dari Daud adalah
pembangunan Bait Allah (II Sam. 7). Ketika penulis mempelajari Alkitab, penulis
menemukan sebuah fakta bahwa apa yang direncanakan Daud merupakan sebuah
tindakan yang telah ia persiapkan sedemikian rupa sehingga pada waaktunya Bait
Allah dapat berdiri tepat seperti apa yang direncanakannya. Padahal jika kita
pelajari lebih jauh, Allah tidak mengizinkan Bait Allah didirikan melalui
tangan Daud. Untuk bagian yang satu ini dikatakan, Allah menegaskan bahwa Daud
tidak layak untuk melakukannya. (I Raja-Raja 5:2 -3). Namun demikian bukan
berarti Daud melepaskan tanggung jawab itu kepada Salomo tanpa sesuatu yang
berarti. Jauh-jauh hari Daud telah mempersiapkan segala kebutuhan, baik
material dan tenaga kerja, tetapi juga gaya hidup dan karakternya merupakan
salah satu kunci keberhasilan Daud membangun Bait Allah.
Perlu diketahui juga bahwa ketika
Bait Allah itu selesai dibangun oleh Salomo kurang lebih memakan waktu tujuh
tahun lamanya, Daud tidak bersama-sama Salomo untuk menyaksikan megahnya
bangunan itu, sebab Daud telah mati di awal masa pemerintahan Salomo.
Mungkin ada banyak orang yang
berkata bahwa pekerjaan Daud dan rencana-rencananya adalah sia-sia bagi
dirinya. Penulis katakan tidak. Sebab sebelum Salomo meletakkan batu pertama
pembangunan Bait Allah, bahkan sebelum Daud
mempersiapkan perencanaan-perencanaan yang matang dan terperinci mengenai
pembangunan Bait Allah itu, Daud telah melihat bangunan Bait Allah yang megah
itu dalam pikirannya. Daud telah melihatnya ketika ia berada dibawah kaki
Allah, ketika Allah menyentuh bagian terdalam dari hidup Daud, itu adalah
persekutuan antara Daud dengan Allah berlangsung. Allah menaruh visi dalam diri
Daud untuk dikerjakan, dan Allah telah memberikan gambaran, “blue print” dari Bait Allah dalam
pikiran Daud. Sesuatu yang sangat hebat. Sebuah maha karya yang tidak pernah
terbayangkan jika hanya dikerjakan oleh pikiran manusia saja.
Apa yang dilakukan Daud ini
merupakan sebuah contoh dari berbagai peristiwa yang tercatat dalam Alkitab
yang menggambarkan bahwa pentingnya seorang pemimpin memiliki rencana dan
strategi yang matang dalam menentukan sebuah tujuan.
Ada banyak peristiwa-peristiwa lain
yang Yesus gambarkan berkaitan dengan kegagalan dari sebuah tujuan karena
kurangnya kesadaran bahwa perencanaan dan strategi merupakan bagian penting
dalam pencapaian sebuah tujuan. Ia menerangkan betapa bodohnya untuk
mengabaikan sebuah rencana:
-
Orang bodoh dan orang pandai yang
membangun (Mat. 7:24-25).
-
Orang yang membangun rumah
menghitung pengeluarannya (Luk. 14:28-30).
-
Seorang raja merencanakan peperangan (Luk. 14:31-32).
-
Seorang pegawai yang tidak setia (Luk. 16:1-8).
Demikian dalam konseptualisasi
pentingnya perencanaan dan strategi dalam kepemimpinan yang melakukan
pemberdayaan. Penulis mengangkat bagian ini sebagai sebuah landasan yang
mendasar dalam kepemimpinan yang melakukan pemberdayaan dengan alasan bahwa ada
banyak pemimpin rohani yang mengabaikan adanya perencanaan yang matang dalam
membangun sebuah pola kepemimpinan. Banyak orang beranggapan bahwa sejalan
dengan waktu akan muncul jalan keluar dari permasalahan-permasalahan yang
sedang dihadapi.
Yakob Tomatala menambahkan sesuatu
mengenai sebuah straregi dalam kepemimpinan, ia mengatakan bahwa: “Anda dapat
menjadi pemimpin yang baik apabila anda mengerjakannya, yang dimulai dari diri
sendiri.”[27]
Mungkin kesalahan terbesar yang
dilakukan orang ketika menentukan sebuah tujuan adalah mengkomitmenkan diri
pada sebuah kegiatan yang sulit dilakukan didalam hidup dan gaya kerja yang ada
sekarang. Rencana dan tindakan harus seirama dengan gaya hidup seorang
pemimpin. Rencana pembelajaran yang mengandung langkah-langkah yang nyata dan
praktis akan menghasilkan perbaikan yang sangat kuat.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Akan menjadi sebuah tanggung jawab
yang baru ketika seseorang memiliki sebuah keputusan bagi dirinya untuk menjadi
seorang pemimpin. Sebab bagaimanapun juga, seorang pemimpin bertanggung jawab
atas orang-orang yang dipimpinnya. Bukan sekedar memimpin, tetapi kapasitas
kepemimpinannya harus melewati batas dan dimensi yang berbeda dari kepamimpinan
orang lain.
Seorang pemimpin tahu dengan benar
tujuannya memimpin. Bukan sekedar mengerjakan tanggung jawab yang menyelesaikan
administrasi dan membagikan hasil dari sebuah usaha yang dikembangkan dan di
kelolanya. Akan tetapi keberhasilan seorang pemimpin dapat dinilai dari
seberapa banyak orang-orang yang dipimpinnya itu mengalami perubahan gaya hidup
yang berbeda dari sebelumnya.
Kepemimpinan seorang Kristen
tentunya lebih daripada itu. Perlu diketahui dengan pasti bahwa Yesus telah
mengajarkan teladan kepemimpinan yang sangat sederhana namun memiliki dampak
yang hebat, lebih dari sekedar pemimpin-pemimpin dunia. Ada banyak pemimpin-pemimpin
di dunia ini. Sejak zaman purbakala, tercatat ada begitu banyak pemimpin yang
telah berkuasa, dan memberikan teladan-teladan kepemimpinan. Akan tetapi hanya
cukup bertahan pada dua atau sampai empat generasi saja. Tetapi Yesus telah
memberikan konstribusi keteladanan kepemmpinan yang berbeda, Ia mampu melakukan
itu berdasarkan landasan karakter hidupnya sebagai sesuatu yang berbicara
mendahului setiap ajaran-ajaran yang diucapkan-Nya. Sejarah mencatat bahwa
semuanya itu telah diterima dan telah di praktekkan menjadi gaya hidup para
martir, bapa-bapa gereja, dan orang Kristen diseluruh dunia yang menyadari
bahwa Kepemimpinan Yesus telah memberdayakan kehidupannya dan telah mengubah
konsep berpikir serta kehidupannya.
Kepemimpinan yang telah Terapkan
telah mengubah kehidupan banyak orang. Inilah yang disebut kepemimpinan yang
melakukan pemberdayaan. Yesus menjadi penggerak utama dari sistem kepemimpinan
yang memberi pengaruh terhadap dunia.
Yang menjadi pertanyaan adalah
bagaimana dengan konsep kepemimpinan yang kita miliki? Apakah telah memberikan
pengaruh yang cukup kuat untuk menjungkir balikkan dunia? Atau kita mulai
menyadari bahwa apa yang telah ita kerjakan sebagai seorang pemimpin belum
memberikan sebuah efek yang berarti bagi keadaan dan bahkan bagi orang orang
yang kita pimpin. Itu berarti kita harus lebih banyak belajar mengembangkan potensi
diri kita sehingga ada sesuatu yang telah berubah ketika konsep-konsep
kepemimpinan itu dimunculkan.
Alkitab merupakan bagian yang tidak
boleh dilepaskan ketika kita memilih untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab
ketika kita mulai berfikir bahwa prinsip kepemimpinan dapat di temukan dan
dimulai dari luar Alkitab, maka dapat dipastikan bahwa hal itu tidak akan
bertahan lama.
Sekian. Tuhan memberkati!
DAFTAR PUSTAKA
Barna, George,Leader
On Leadership, Cet-2, Malang: Gandum Mas, 2002.
C. Maxwell, John,
Leadership Gold, Jakarta :
Immanuel, 2009.
C.Maxwell, John, memperlengkapi
oranglain untuk sukses Anda, Jakarta: Light Publishing, 2009.
C. Maxwell, John, The 21 Most Powerful Minutes in a Leader’s Day, Batam Centre :
Interaksara, 2002.
C.
Swansburg, Russell, dkk, Pembangunan Staf
Keperawatan Jakarta : Gramedia, “tt”.
C.
Wofford, Jerry, Kepemimpinan Kristen Yang
Mengubahkan, Yogyakarta: ANDI, 2001.
Dinnen,
Stewart, You Can Learn to Lead, Yogyakatra
: ANDI,2009.
Mac
Arthur, John, Kitab Kepemimpinan, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2003.
Meyer,Joyce,
Pemimpin Yang Sedang Dibentuk, Cet-5,
Jakarta: Immanuel, 2007.
Poctavianus,
Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu
Allah, Cet-5, Malang: Gandum Mas, 1994.
R.
Swindoll, Charles, Kepemimpinan Kristen
Yang berhasil, Surabaya : Yakin “tt”.
Rush,
Myron, Pemimpin Baru, Jakarta:
Immanuel,1991.
Tomatala,
Yakob, Pemimpin Yang Handal, Jakarta:
Institut Filsafat Teologi dan Kepemimpinan Jaffray, “tt”.
[3] Russell C. Swansburg, Laurel C.
Swanburg, Pembangunan Staf Keperawatan
(Jakarta : Gramedia), 317
[4] Charles R. Swindoll, Kepemimpinan Kristen Yang berhasil, 42
[5]Poctavianus, Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah, 64.
[6] Joyce Meyer, Pemimpin Yang Sedang Dibentuk, Cet-5
(Jakarta: Immanuel, 2007), 128.
[7] Ibid, 37.
[8] Poctavianus, Manajemen Dan Kepemimpinan Menurut Wahyu
Allah, 75.
[9] Ibid, 76.
[10] Ibid, 77.
[11] Ibid, 77.
[12] Jerry C. Wofford, Kepemimpinan Kristen Yang Mengubahkan, (Yogyakarta:
ANDI, 2001), 49.
[13] John C. Maxwell, The 21 Most Powerful Minutes in a Leader’s
Day, (Batam Centre : Interaksara ), 44.
[14] Russell C. Swansburg, Laurel C.
Swanburg, Pembangunan Staf Keperawatan
(Jakarta Gramedia,), 316.
[15] Russell C. Swansburg, Laurel C.
Swanburg, Pembangunan Staf Keperawatan,
317.
[17]
John C. Maxwell, The 21 Most Powerful Minutes in a Leader’s
Day, Batam Centre: Interaksara), 2002.
[18] John C. Maxwell, The 21 Most Powerful Minutes in a Leader’s
Day, 229.
[19] Ibid, 229
[20] John Mac Arthur, Kitab Kepemimpinan, (Jakarta, BPK Gunung
Mulia, 2003), 32
[21] John C.Maxwell. memperlengkapi oranglain untuk sukses Anda (
Jakarta: Light Publishing, 2009), 8.
[23] Stewart Dinnen. You Can Learn to Lead (Yogyakatra :
ANDI,2009), 143.
[24] Myron Rush, Pemimpin Baru (Jakarta:
Immanuel,1991), 43.
[25] John C. Maxwell, Leadership Gold, (Jakarta : Immanuel,
2009), 167.
[27] Yakob Tomatala, Pemimpin Yang Handal, (Jakarta: Institut
Filsafat Teologi dan Kepemimpinan Jaffray ), 31.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar